
Gebyar puncak peringatan Hari Jadi Sumenep ke 745 lalu telah berakhir. Kemeriahan yang ditandai dengan eksplorasi pertunjukan dengan menampilkan prosesi hari jadi Sumenep di depan Masjid Agung Sumenep dinilai menarik, meski sebagian masyarakat Sumenep tidak bisa menonton lantaran area pengunjung sangat dibatasi. “Tontonan yang hanya dinikmati para pejabat”, demikian kerap terlontar kesan dari masyarakat.
Lepas dari keramaian dan penilaian dalam peringatan hari jadi Sumenep yang setiap tahun menonjolkan keagungan Arya Wiraraja sebagai tokoh utama pendirian pemerintahan masa lalu, serta sejumlah kisah heroiknya dalam menciptakan gerakan politik dan perjuangannya sehingga menjadikan tokoh Arya Wiraraja cukup disegani dalam sejarah pada kekuasaan Majapahit.
Nemun hal yang paling prinsip, tokoh sentral yang satu ini belum pernah diperkenalkan dimana keberadaan Arya Wiraraja setelah akhir pemerintahan di Sumenep?. Bagaimana dan dimana jazat Arya Wiraraja dikuburkan?
Dalam sejarah Sumenep disebutkan, Prabu Kertanegara yang memerintahkan Singasari (Lumajang Jawa Timur) melakukan perubahan besar-besaran dalam menjalankan pemerintahan. Namun demikian banyak hal kebijakan yang ditentang Arya Wiraraja yang saat itu memangku pejabatan atau demung yang dekat dengan Raja Kertanegara, suatu ketika memiliki pendapat yang berbeda dengan raja, sehingga demung Arya Wiraraja tidak disukai, sehingga akhirnya “dibuang” ke Madura Timur (Sumenep). Namun dalam buku sejarah Sumenep tidak diceritakan dimana akhirnya Aryta Wiraraja wafat dan dimakamkan.












Saya sebagai lulusan Ilmu Sejarah UM. izin bertanya, apakah dalam penggantian nama Makam Minak Koncar menjadi Makam Arya Wiraradja menggunakan sumber yang memang benar-benar valid? atau kalau kata orang jawa “jarene iki, jarene iku”?. kalau berdasarkan sumber yang saya baca selama masa studi, era Arya Wiraradja adalah abad 13 M dan beragama Hindu oleh karena itu masih memiliki hubungan dengan kerajaan hindu di Jawa serta tidak ada makam karena dilakukan kremasi, sedangkan Minak Koncar beragama Islam dengan dibuktikan batu nisan ala masa kesultanan islam era abad 15-16 M di Makam Minak Koncar di Sukodono, Kab. Lumajang. Jika kita mengedepankan konsep “berpikir historis” seperti yang dijelaskan oleh Sam Wineburg, maka kita bisa melihat kejanggalan tersebut. Sehingga saya beranggapan terjadi pembelokan sejarah karena kebanggaan masyarakat yang berlebih khususnya Masyarakat Madura di Lumajang kepada Arya Wiraradja yang merubah Makam Minak Koncar menjadi Makam Arya Wiraradja tanpa mengedepankan konsep berpikir historis.
Semoga menambah wawasan sejarah.
Terima kasih, Salam Jas Merah.