Bagian terpenting dari proses Islamisasi ini melalui islamnya kalangan bangsawan di kala itu. Sehingga, sekitar abad ke 16 dan seterusnya, semua kerajaan dan begitu juga masyarakatnya sudah Islam, utamanya setelah penguasaan Mataram atas kerajaan-kerajaan Madura antara abad ke 16-17.
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
Agama Primitif Orang Madura
Agama primitif orang Madura bisa dipastikan tidak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa pra Islam, yaitu Hindu-Budha. Adapun agama selain itu adalah agama baru yang datang kemudian, termasuk Islam dan Kristen. Selanjutnya akan dijabarkan proses Islamisasi Madura.
Tradisi Ritual Tolak Balak Warga Arosbaya Bangkalan
Tradisi ritual tolak bagi masyarakat Arosbaya Bangkalan, merupakan tradisi turun temurun sejak nenek moyang mereka. Tardisi ritual itu yang awalnya dilakukan selama 40 hari, kini hanya dilakukan selama 9 malam, dengan melakukan pembacaan sholat dan burdah
Negara Madura, dari Federal ke NKRI
Untuk mempermudah pembentukan Negara Madura, Belanda melakukan suatu blokade ekonomi dan agresi militer. Belanda mengerahkan kekuatan yang terdiri dari pasukan KL, KIEL dan Veligheids Brigade. Selain itu Belanda menyiapkan suatu Batalyon khusus, yaitu “Pasukan Cakra”
Warisan Sastra Lisan Madura, Menyuarakan Irama Jaman
Menghidupkan warisan tradisi lisan Madura harus ada upaya memberi nafas baru agar penampilannya terasa segar, sehingga penampilannya tidak sekadar menjadi kenangan dan nostalgia. Lebih dari itu penyajiannya benar-benar menyuarakan irama zaman.
Warisan Sastra Lisan Madura, Sebuah Perkenalan
Ketika sastra tulis tidak begitu subur, sastra lisan menjadi sesuatu yang niscaya, karena pertanyaan dan persoalan-persoalan kehidupan tidak bisa dijawab dengan bisu. Suara nurani, detak jantung, desiran darah, kegetiran hidup, penderitaan dan rasa senang akan tampil memperdengarkan suara suara terdalam kemanusiaan.
Pelaksanaan Pangantan Tandhu
Tradisi pangantan tandhu memiliki beberapa fungsi dan makna dalam pelaksanaannya. Fungsinya anatar lain mempertebal rasa solidaritas, sebagai alat pendidikan, sebagai alat peningkatan ekonomi, sebagai pengesahan dan pelestarian kebudayaan, sebagai sarana rekreatif, dan sebagai upaya melestarikan keturunan.
Upacara Ngekka’ Sangger
Pangantan ngekka’ sangger, mempelai pria diwajibkan untuk merajut, menyusun bilah-bilah bambu (sangger) menjadi satu sebagai alas kasur di ranjang / difan. Hal hal sebagai ujian kemampuan dan tanggung jawab seorang suami ketika pada hari-hari bersama di tempat tidur.
Simbolitas dan Perangkat Pangantan Tandhu
Pelaksanaan pangantan tandhu ada dua macam, yang pertama hanya bertunangan yang kedua memang mengadakan pernikahan atau gabai. Bedanya adalah jika bertunangan hanya ada proses pangantan arak tetapi sebaliknya jika memang ada pernikahan (akad nikah) maka proses pangantan tandhu
