Menjungjung Bahasa dan Citra Madura

Amir Mahmud

Untuk menjalin komunikasi yang lebih luas antar elemen, baik dari kalangan pecinta, intelektual, praktisi, peneliti maupun pemerhati bahasa dan sastra Madura, maka Balai Bahasa Surabaya mengadakan seminar yang bertujuan untuk menambah wawasan kemaduraan yang lebih kuat. Adapun penyebaran edaran umum seminar disampaikan secara meluas, baik secara nasional maupun internasional, seperti Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Australia, dan Belanda. Diharapkan melalui forum seminar ini terjalin interaksi dan komunikasi yang lebih dekat dengan komunitas Madura.

Seminar yang diadakan di penghujung tahun 2005 bertujuan untuk mencapai permufakatan dan sebuah keputusan yang diambil oleh masyarakat Madura melalui Tim perumusnya.  Paling tidak melalui tim perumus tersebut dicapai sebuah kesepakatan pengembangan bahasa Madura, sehingga ke depan pengembangan bahasa Madura akan maksimal. Pencapaian hasil maksimal tersebut  dengan indikator sebagai berikut ;

  1. memiliki Jurusan Bahasa Madura di perguruan tinggi agar kelak memiliki guru bahasa Madura di sekolah dan peneliti yang handal,
  2. terlaksananya Kongres Bahasa Madura agar diperoleh strategi pengembangan bahasa Madura,
  3. bahasa Madura diajarkan secara profesional di sekolah dasar, sekolah lanjutan, dan
  4. segera terciptanya bahasa Madura standar yang diwujudkan melalui ejaan, tata bahasa, dan kamus.

Bahasa daerah adalah identitas  atau citra suatu daerah. Demikian pula  dengan bahasa Madura yang merupakan citra atau identitas Madura. Oleh karenanya menjadi kewajiban semua elemen masyarakatnya untuk menjunjung tinggi  bahasa Madura agar tercipta identitas kemaduraan yang sempurna. Identitas kemaduraan akan terwujud apabila, (1) semua elemen masyarakat bersatu dan ber-komitmen untuk mengembangkan bhasa Madura, (2) setiap pemilik dialek tidak membenarkan dan mempertahankan dialeknya masing-masing, (3) setiap elemen harus merasa memiliki kepentingan yang sama untuk mewujudkan citra daerah, seiring dengan  terselenggaranya Otonomi Daerah. Karena kalau setiap elemen mempertahankan gagasannya masing-masing, maka pengembangan bahasa Madura akan sulit dan tidak sesuai dengan harapan, dan akan berakibat bahasa Madura akan tertinggal dengan etnis yang lain dalam upaya pengembangan budayanya. (El Iemawati)

***

Amir Mahmud, M. Pd, Kepala Balai Bahasa Jawa Timur (Disampaikan dalam seminar Bahasa dan Sastra Madura di Surabaya)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *