Memaknai Popularitas Anekdot Bahasa Madura

Budayawan sampai Presiden

Fenomena bahasa dan anekdot Madura makin populer tidak hanya di kota besar seperti Surabaya, tapi merambah secara nasional. Budayawan seperti Emha Ainun Nadjib atau tokoh sekelas mantan presiden B.J. Habibie dan Gus Dur kadang mengutip anekdot dan bahasa Madura. Belum lagi para menteri dan pejabat tinggi yang sering melontarkan joke-joke kultural Madura seperti saya kutip pada awal tulisan ini.

Yang paling banyak tentu para pelawak, baik tingkat nasional maupun regional. Mereka memanfaatkan bahasa dan anekdot Madura sebagai komoditas lawakan, meski terkesan dipaksakan. Malah, banyak pelawak yang kemudian ber-trademark Madura, seperti Kadir dan Marlena. Mereka populer karena berkah (untuk tak menyebut mengeksploitasi) bahasa dan anekdot Madura. Padahal, mereka bukan asli orang Madura.

Fenomena bahasa dan anekdot Madura yang makin populer itu tentu positif. Sebab, tak semua bahasa daerah bisa ngetop secara nasional seperti bahasa Madura. Tapi, kadang kesan konyolnya yang lebih ditonjolkan. Padahal, di balik kekonyolan itu, tersimpan kecerdasan logika, terutama secara kultural.

Seperti kita pahami, sesuai watak kulturalnya, orang Madura tak gampang menyerah, meski sudah terpojok dan kalah. Kasus Gus Dur dan nelayan di atas adalah contoh nyata. Meski bersalah, mereka masih berkilah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *