Marlena; Pertemuan Sahabat Lama

Ilustrasi: Masyarakat Legung Timur, Sumenep, saat bersantar di halaman pesisir laut jelang upacara rokat tase’

Marlena, Perjalanan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr , telah terbit dalam bentuk  buku,

Episode Dua Puluh Satu

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia sebarkan di bumi ini segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (Keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Itulah ayat Al- Qur’an yang menjadikan Pak Toha selalu memikirkan perjalanan hidupnya di tengah alam semesta ini. Tanda-tanda kekuasaan Sang Maha Pencipta telah ia isyaratkan dalam sikap hidup kesehari-hariannya. Ia sadar bila suatu ketika harus menghadapi duka, itu pun merupakan isyarat bahwa dirinya tak lebih dari segumpal daging yang diturunkan di atas bumi ini. Demikian pula sebaliknya, bila ia sedang meraup rasa suka, ia sebenarnya diuji sejauh mana dirinya mampu mensyukuri nikmatnya. Itulah gambaran kecil yang terjadi pada diri Pak Toha.

Kalau memang Tuhan menghendaki, maka turunlah kehendak-Nya. Dan pada saat kali ini pun, Tuhan ternyata menghendaki agar Pak Toha menikmati karunia yang diturunkan-Nya. Karunia itu berupa pertolongan dan petunjuk yang diisyaratkan Tuhan agar Pak Toha menikmati pertemuan antara dua sahabat yang hampir setengah usianya telah terpisah hubungan antara keduanya.

“Aku tidak menduga bila kita akhirnya berjumpa kembali dalam suasana yang sangat berbeda,” begitu kesan Pak Toha kepada sahabatnya itu. Pak Mahmud, sahabat lamanya itu ternyata pun merasa rasa suka cita yang amat dalam.

“Yaah, satu perjumpaan dalam suasana yang mungkin sulit dapat digambarkan dalam benak kita,” kesan Pak Mahmud pula. “Aku lihat, ternyata kau lebih cepat tua dari usiamu.”

Keduanya tertawa meriah.

“Mungkin kau karena dari ABRI sehingga badanmu nampak masih perkasa,” puji Pak Toha.

“Dalam hal ini memang aku akui, bila tidak demikian percuma pada waktu sekolah dulu, si Mahmud ini dijuluki sebagai si anak bengal,” puji Pak Mahmud kepada dirinya sendiri. “Tapi aku akui, dalam hal wanita, memang aku kalah terhadapmu. Keduanya tertawa lagi, sehingga ruang tamu itu penuh oleh hentakan suara meriah yang kadang-kadang dibumbui oleh batuk-batuk.

“Eeeh, Mud. Anakmu sekarang sudah berapa?” tanya Pak Toha kemudian.

“Lima. Tapi semua laki-laki.”

“Kalau begitu, lengkap bila membentuk tim bola volly termasuk dirimu,” gurau Pak Toha.

“Habis gimana? Semuanya hadir begitu saja,” ungkap Pak Mahmud seakan-akan terpojok oleh keberhasilan keluarga besarnya itu. “Kalau kamu?”

“Cuma tiga. Satu di antaranya anak angkat.”

“Wah, tetap saja jiwa sosialmu,” puji Pak Mahmud menggambarkan jiwa Pak Toha sewaktu masih muda di kampung dulu.

“Aaah. Kau ini ada-ada saja,” tanggap Pak Toha merendah.

Perbincangan kedua sahabat itu akhirnya meningkat ke arah perbincangan lebih jauh. Setiap perbincangan itu tampak semakin meriah di sela-sela gelak tawa. Permasalahan masa lalu ternyata menjadi topik yang paling hangat antara keduanya. Sehingga kelucuan-kelucuan nostalgia kerap muncul seakan dirinya dikembalikan kepada masa tiga puluh tahun yang lalu.

Pak Mahmud ini termasuk teman yang paling diakrabi oleh Pak Toha pada masa sekolahnya. Di samping memang pemberani, ia selalu menjadi pelindung bagi Pak Toha bila suatu ketika diganggu oleh teman yang lain. Maka tak heran, bila waktu itu Pak Mahmud setiap hari mendapat jatah bagian kue jajan yang dibawa oleh Pak Toha dari rumah. Demikian juga ketika Pak Mahmud mendapat kesulitan pelajaran, Pak Toha pun dengan rajin membantunya. Karena dalam hal pelajaran Toha muda menjadi teman yang lain. Pak Toha memiliki otak yang paling encer, sehingga hampir setiap ulangan hanya Pak Toha lah sebagai tumpuan teman sekelasnya menyelesaikan soal-soal yang dihadapi. Kesempatan ini tentu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Pak Mahmud, yang pada dasarnya kemampuan pelajarannya jauh di bawah Pak Toha. Namun kelebihan Pak Mahmud, ialah kekuatan fisiknya. Itulah jaminan yang diserahkan kepada sahabat kentalnya itu.

Larut pertemuan itu, akhirnya melarutkan gerak malam. Namun bagi mereka tidak ada artinya bila dibandingkan dengan arti pertemuan itu. Bahkan sampai pagi pun, kalau mampu mereka akan bertahan.

“Oh iya, siapa nama anak angkatmu tadi?” ulang Pak Mahmud pada akhir perbincangannya.

“Marlena.”

“Oh iya Marlena.”

Pak Mahmud kemudian terdiam. Ada kesan dalam yang tersembunyi di balik hati Pak Mahmud. Apalagi setelah memandang foto Marlena yang terpampang di kamar tamu. Gerak hati Pak Mahmud timbul untuk mengenal dan mengetahui lebih jauh. Sebenarnya Pak Mahmud ingin mengutarakan isi hatinya, yang tiba-tiba muncul saat itu.

“Kenapa?” tanya Pak Toha heran, melihat perubahan air muka sahabatnya itu.

“Eee ….tidak. Cuma aku terkesan juga saja pada dia,” tutup Pak Mahmud.

“Ada sesuatu yang menarik hatimu,” pancing Pak Toha.

Mendengar penawaran itu Pak Mahmud tersentak seakan dirinya disodori suatu harapan. Pak Mahmud kembali berfikir.

“Maksudmu?”

“Yah, siapa tahu?” kias Pak Toha yang langsung diterima dalam pengertian Pak Mahmud.

“Aku pikir, keakraban persahabatan kita ini perlu kita lanjutkan kepada generasi kita,” ungkapnya.

Pak Toha mendengar jelas ungkapan itu langsung dipahami. Jadi dengan demikian maka kloplah pemikiran Pak Toha yang sesaat lalu menggambarkan suasana itu.

“Sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan. Bahkan hal ini merupakan kesempatan terbaik bagi kita untuk melanjutkan keakraban kita sebagaimana harapanmu,” jelas Pak Toha. “Tapi permasalahan ini yang terpenting terletak kepada yang bersangkutan.”

“Hal itu, aku kira masih bisa diatur. Aku yakin, pasti anakku suka pada Marlena.”

“Mudah-mudahan sajalah, Marlena pun suka terhadap harapan kita,” timpak Pak Toha.

“Yah, kapan lagi. Kalau kita sudah mati, di antara generasi kita pasti akan putus hubungan.”

“Aku mengerti.”

Jadi tanpa rencana sebelumnya antara Pak Toha dan Pak Mahmud, akhirnya terjadi kesepakatan. Apalagi Pak Toha semakin mengenal tentang diri anak sahabatnya itu, yang beberapa minggu kemudian dibawa dan diperkenalkan kepada Pak Toha. Namun meski demikian kadang-kadang masih timbul keraguan di hatinya. Hingga dua kali kehadiran Ilham di rumah Pak Toha, ia masih belum berani menyampaikan kepada Marlena. Akibatnya pemikiran orang tua itu terkatung-katung oleh perasaannya sendiri.

Sebenarnya rencana ini telah dimusyawarahkan kepada Fatimah dan Fajar ketika keduanya pulang sambang pada ayahnya. Dan ternyata kedua anaknyapun setuju gagasan Pak Toha. Apabila Fajar dan Fatimah, mulai mengenal sendiri keberadaan Ilham.

“Aku pikir Ilham orangnya cukup baik. Sopan dan memiliki masa depan yang baik,” komentar Fatimah yang disetujui pula oleh Fajar.

“Tampaknya ia seorang anak yang berpendidikan,” kata Fajar.

“Aku kira juga demikian,” timpal Pak Toha. “Tapi itulah kesulitan kita. Apa mungkin Marlena setuju”.

“Yaah, secara perlahan-lahan kita atur nantinya,” ujar Fajar.

“Kalau mungkin, keduanya kita pertemukan,” tambah Fatimah.

“Maksudku juga begitu,” sahut Pak Toha. “Tapi…”, Pak Toha berfikir dan menganalisa kembali keberadaan Marlena pada masa sebelumnya. “Oh iya, bagaimana hubungannya dengan pacarnya yang dulu itu,” tanya Pak Toha kemudian.

“Maksud ayah, Taufik.”

“Ia si Taufik itu.”

“Sebagaimana ia pernah ceritakan. Marlena telah memutuskannya,” kata Fatimah.

“Bila demikian, langkah kita selanjutnya akan lebih mudah,” sambung Fajar. “Cuma, mudah-mudahan Marlena tidak mempunyai pacar lain.”

“Aku kira tidak. Sebab biasanya, setiap ada permasalahan pribadinya selalu dilemparkan padaku,” jawab Fatimah.

“Kalau begitu kita atur saja nanti,” alternatif Fajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.