Kisah Pangeran Jaka Lombang dan Puteri Cemara Udang

asal usul cemara udang“Ajarkan cara-cara bercocok tanam yang benar, memilih tanaman yang cocok dengan kondisi tanahnya, dan jangan lupa juga ajarkan cara hidup bersih serta sehat. Jangan sampai bencana seperti ini terulang kembali!” Panjang lebar  sang raja menasehati puteranya. Saat ini perkampungan itu dikenal dengan nama desa Batang-Batang. Letaknya di sebelah Selatan kampung nelayan Legung.

            Memikirkan hal itu, sang raja menjadi berduka. Dipanggilnya seluruh pejabat istana untuk bersidang; untuk menemukan cara  mengatasi bencana itu. Tak satupun pembantunya mampu menemukan cara. Sang raja semakin sedih.

“Kalian ini pejabat macam apa. Di saat kerajaan kayaraya, kalian begitu memujaku dan berebut memberi saran. Saat kerajaan jatuh miskin, tak satu pun jalan keluar kalian dapatkan.” Demikian sang raja menjadi sangat marah.

“Kalian lihat para nelayan di pantai Legung dan Dungkek banyak yang kelaparan. Tangkapan ikan dan udang menjadi sulit. Para petani di wilayah perbukitan juga tidak panen. Aduh, kasihan rakyatku.”  Keluh raja sambil menunduk sedih.

Suasana menjadi sepi dan tegang. Tak satupun pejabat berani beringsut dari tempat duduknya. Semua menunduk sedih.

“Ampun, Ayahanda,” suara pangeran Jaka Lombang memecah keheningan. “Perkenankan puteranda mengajukan usul.” Lanjutnya.

“Apa yang akan kamu usulkan puteraku?” tanya sang raja.

“Biarlah puteranda mencari jalan keluar!” Demikian pangeran Jaka Lombang mulai mengutarakan maksudnya. “Ijinkanlah puteranda merantau mencari petunjuk kepada Yang Maha Agung. Puteranda mohon doa restu agar segera dapat mengatasi bencana negeri ini. Kasihan rakyat yang telah lama menderita.” Kata pangeran sambil mengaturkan sembah.

“Baiklah, kamu boleh pergi. Jangan pulang sebelum mendapatkan petunjuk. Doaku menyertaimu.” Demikian sang raja mengijinkan putranya pergi.

Jadilah pangeran Jaka Lombang merantau. Diikuti oleh dua orang prajuritnya yang setia. Ia ingin mencari petunjuk, mengatasi persoalan rakyatnya. Perjalanannya sampailah di sebuah hutan dan bertapalah pangeran Jaka Lombang di sana. Ia duduk pada sebuah batu besar di tengah hutan itu. Berbulan-bulan ia mohon petunjuk kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Dalam puncak doanya tampaklah wajahnya bersinar cerah. Dan batu tempat duduknya bagaikan menjadi rata seperti bentangan tikar. Melihat hal itu prajuritnya terkagum-kagum dan menyebutnya sebagai toteker atau Batu Tikar. Keberadaan batu toteker ini masih ada hingga sekarang dan terletak di desa Banuaju Barat  Kecamatan  Batang-Batang.

“Marilah kita melanjutkan perjalanan.” Ajak pangeran Jaka Lombang kepada prajuritnya.

“Kita akan ke mana Pangeran?” tanya seorang prajuritnya.

“Kita akan menyeberangi lautan dan pergi ke sebuah pulau.” Jawab pangeran dengan mantap. Tubuhnya kurus kering, namun tampak wajahnya yang cerah penuh harapan. Belum jauh keluar dari hutan, mendadak terdengar teriakan orang minta tolong.

“Tolong, tolong! Jangan bawa Kambingku,“ pinta  seorang kakek sambil memeluk kaki seorang prajurit. Beberapa prajurit yang lain berusaha memegangi  kakek itu yang meronta dan berusaha mempertahankan kambingnya. Rupanya beberapa orang prajurit itu sedang memaksa hendak membawa seekor kambing milik orang desa itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *