Lebih jauh, Ratna (2005:398) menjelaskan warna lokal lebih filosofis dan bukan sekadar permukaan seperti ketika ia menjelaskan sastra regionalisme: “Warna lokal dan warna daerah menyarankan kecenderungan untuk kembali ke wilayah tertentu, semestaan sebagai asal usul di tempat terjadinya pertemuan antara pengarang sebagai subjek dan semestaan sebagai objek. Wa rna lokal, seperti dijelaskan di atas, mengevokusi energi kreativitas dengan cara membangkitkan citra masa lampau, baik sebagai citra arketipe dan primordial maupun citra nostalgis”.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dikembangkan, di antaranya adalah konotasi sastra warna lokal yang perlu diubah atau didekonstruksi. Hal itu perlu dikembangkan karena tema-tema yang berkaitan dengan sastra warna lokal sangat kaya dan beraneka ragam. Bahkan, pengarangnya memiliki tugas yang cukup berat sekaligus mulia sebab melalui sastra warna lokal dapat diperkenalkan kekayaan kebudayaan masing-masing. Penulisan sastra warna lokal pada gilirannya hampir sama dengan penulisan ilmu pengetahuan. (Ratna, 2005:398). Lebih jauh ditegaskan, “sastra warna lokal jelas memegang peranan penting dalam memperkenalkan khazanah kebudayaan sebagai hakikat multikultural” (Ratna, 2005: 400).
Perihal warna lokal juga diungkapkan oleh Dad Murniah. (Sweeney, 2007: 141) menegaskan: “Warna lokal sering dipahami sebagai sesuatu yang statis dan berdimensi keruangan.” Adapun dalam operasionalnya, tegas Murniah, warna lokal diperlakukan sebagai bagian dari struktur karya sastra, khususnya sebagai salah satu aspek dari latar, atmosfer, dan penggunaan bahasa. Sebagai bagian dari latar fisik dan ruang, warna lokal dikaitkan dengan geografi. Juga dengan atmosfer dan ciri-ciri kultural setempat, misalnya adatistiadat, ritual, bahkan dengan kecenderungan interferensi leksikal-idiomatis bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia yang digunakan di dalamnya (Sweeney, 2007:141). Oleh karena iłu, dalam konteks penelitian ini, konsepsi warna lokal yang konvensional didekonstruksi, dengan mengusung kaidah ‘sastra regionalisme’. Dalam hal iłu, digagas bukan hanya sekitar ornamen/ dekorasi warna lokal terkait dengan latar saja, melainkan spirit dan mentalitas lokalitasnya.
Membaca Kembali Identitas Madura
Dalam beberapa hal karya sastra Madura modern, pembacaan pada Madura sangat marak dan menempatkan Madura sebagai pijakan kreatif. Jika menggunakan kacamata Hariyadi (1981), karya iłu tidak bisa disebut Madura modern karena tidak berbicara tentang keindonesiaan. Namun, sejatinya jika diukur dari kacamata sastra karena iłu disebut modern. Hal yang menjadi tolak ukur adalah tentang bentuk, juga tentang isi. Jakob Sumardjo melihat sastra modern berbeda dengan sastra klasik sebab sastra modern lebih menekankan kebebasan dalam pengungkapan dan tertarik pada masalah zamannya yang berlaku di lingkungan masyarakat yang telah terdidik secara Barat.
Dalam sebuah puisi yang ditulis oleh penulis yang selama ini hidup di Bondowoso, H. Iskandar (Jokotole, 2009), terdapat ungkapan tentang pengakuan diri sebagai orang Madura. Pengakuan iłu menjadi menarik karena ia berłempat tinggal di luar Madura tepatnya di Jawa. Sebagaimana diketahui, migrasi Madura ke wilayah Jawa bagian timur telah menciptakan sebuah subkultur tersendiri yang disebut dengan Pandalungan. Dalam puisi iłu, dapat diketahui bahwa etos migrasi/rantau masyarakat Madura memang tinggi. Meskipun demikian, mereka tidak lupa kemaduraannya.
Terjemahannya:
Saya ini orang Madura
Yang ada di pulau Jawa
Datang ke pulau Madura
Untuk mengikuti kongres bahasa Madura
(Jokotole 3, 35)
Selain iłu, dalam Jokotole sebelumnya, edisi 2 (Juli—Desember 2008) terdapat sebuah puisi yang berbicara tentang Madura dengan nada yang berbeda. Penulisnya, Sofiatus Sholehah, berdiam di Madura. Dalam puisi yang berjudul “Panoteng Madura”, unsur liris penyair demikian terasa. la berusaha mengungkap tentang karakter Madura yang selama ini sudah menjadi rahasia umum, yaitu tentang kekerasannya, yaitu carok. Selanjutnya, ia berusaha membalik anggapan iłu. Celurit, yaitu alat carok, bukan untuk menebus rasa malu atau kekerasan, melainkan simbol karakter Madura tentang kehidupannya dan ketajaman indranya. Apabila diindonesiakan, judul “Panoteng Madura” adalah simbol karakter Madura. Di bait terakhir terdapat inti puisi iłu.
Ta’ kolbhãs atѐ nѐka
Tasonglet tajhemma arѐ’
Panotѐngnga Madhurã
Bannѐ kaangguy kakerrasan
Bannѐ kangguy katodusan
Namong
Bhãntѐng Madhurã ka’ dissa’
Daddhi tandã
Ropa kaodi’ãn maghãrsarѐ Madhurã
(Jokotole 2, 36)
Terjemahan:
Tergores hati ini
Teriris tajamnya celurit
Karakter Madura
Bukan untuk kekerasan Bukan untuk rasa malu
Namun .
Banteng berjiwa kerja keras Madura iłu
Menjadi tanda
Wujud kehidupan masyarakat Madura
Ada stigma yang ingin dibongkar dari puisi tersebut karena sejak zaman penjajahan, stigmatisasi Madura kurang menarik.
TouwenBouwsma (1989:159) dengan mengutip sebuah artikel di Java Post tahun 1922, mengatakan bahwa “Orang Madura dan pisaunya adalah satu: tangannya selalu siap untuk merampas dan memotong. Dia sudah terlatih untuk menggunakan segala macam senjata, tetapi paling ahli dalam menggunakan arit. Tanpa arit, dia tidak lengkap, hanya setengh laki-laki, orang liar yang sudah dijinakkan.” Hal senada juga diungkapkan oleh De Jonge (1995:13): “Jika orang Madura dipermalukan, dia akan menghunus pisaunya dan seketika itu pula akan menuntut balas atau menunggu kesempatan Iain untuk melakukannya.” Keduanya dikutip lewat Wiyata (2008:10-11). Dari situ dapat disumpulkan bahwa orang luar menganggap Ciri khas Madura adalah carok. Bahkan, ada yang menyebut sebagai ‘orang carok’ (De Jonge, 1993:1 dan Smith, 1977: 58, via Wiyata, 2008:11).
Gambaran itu salah kaprah. Jika ditelusuri dalam sastra Indonesia, terdapat pembalikan yang sama. Salah satunya adalah seperti yang diungkap kan dalam novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer. Sarkam, centeng Nyai Dasima, dikenal sebagai tokoh yang keras, jago silat, dan piawai dalam menggunakan senjata tajam. Namun, Pram menampilkan Sarkam sebagai seorang martir dan memiliki pengabdian yang tanpa tanding pada orang yang dihormatinya meskipun yang dihormati itu perempuan, yaitu Nyai Dasima.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh M. Fudoli Zaini melalui cerpen ‘Burung Putih’ (Surabaya Post, 30 Agustus 1992). M. Fudoli Zaini adalah cerpenis Jawa Timur, kelahiran Sumenep, yang dikenal sebagai penulis fiksi sufi. Cerpennya juga bercorak suf, dengan mengambil tema keihlasan atau hakikat dari sesuatu yang tampak. Latarnya adalah Seronggi, dan sebuah kota di Madura. Alurnya maju. Sebagaimana kisah sufi dia sering menggunakan lelaki tua sebagai tokohnya. Kali ini tokoh utamanya adalah lelaki tua, sedangkan antagonisnya Raden Panji Braja.
Cerpen itu menceritakan lelaki tua yang baru saja menghadiri perkawinan santrinya. Dia pun menginap. Pagi-pagi ia pamit pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan ia bertemu dengan berbagai kehidupan alam, seperti hutan yang penuh kera, yang ia sapa dengan Maimun. Sebelumnya, dia membeli pisang yang dia berikan kepada kera. Dia berjalan seperti seekor burung putih, karena seluruh pakaiannya putih. Begitu dia menapak di pinggiran kota tempat tinggalnya, datangnya sebuah kereta meluncur dari depan.











