Chandra Hassan Pejuang Pantang Menyerah

Setelah Chandra Hasan mengadakan pertemuan dengan Residen, Bupati-bupati, dan beberapa pengawal sipil berangkat ke Ganding (Guluk-guluk) untuk mengambil isterinya di tempat pengungsian dan kemudian berjalan menuju Pasongsongan. Disana ia bertemu dengan Sidik pemimpin dari daerah itu yang tergolong kaya.   Chandra Hassan menanyakan perahunya untuk dipakai ke Tuban dan ia diberi perahu tersebut dengan anak buahnya.

Pada tanggal 11 Nopember 1947 Chandra Hassan meninggalkan Pasongsongan menuju Tuban tetapi setelah sampai di lautan terbuka di kejauhan terlihat sebuah kapal. Para anak buah perahu sama-sama gelisah ketakutan dan kemudian mereka menolak untuk melanjutkan perjalanan, Chandra Hassan tidak memaksa untuk terus akan tetapi ia minta kepada juru mudi perahu agar sekembali ke Pasongsongan tetap merahasiakan perjalanannya.

Setibanya di Pasongsongan Komandan Resimen Jokotole ini terus menelusuri pantai dan naik ke Bukut Bindang yang terletak di antara Pasongsongan dan Sotabar. Setelah beberapa jam ia beristirahat di rumah janda tua itu di atas bukit, sekitar jam 12.00 terdengar beberapa kali tembakan dan teriakan-teriakan adanya serdadu Belanda. Dua orang melompat dari semak-semak dan berkata “Pak Chandra, Sidik digiring Belanda dan pasukan Cakra menuju kemari. Lekas saja menyingkir!!”

Chandra Hassan lekas menarik isterinya sambil berpesan kepada si janda dan orang-orang lainnya yang berada ditempat itu jika ditanya Belanda dimana ia berada supaya dijawab tidak tahu. Kemudian ia melompat ke kandang sapi bersama isterinya yang tiarap di tempat pakan sapi di bawah timbunan rumput-rumput.

Tak lama kemudian datanglah Sidik bersama tentara Belanda dan paasukan Cakra menanyakan Chandra Hassan. Lalu janda tua itu menjawab bahwa ia tidak tahu, ia hanya melihat sore harinya ada rombongan orang-orang menuju ke Barat mungkin ke Waru. Mereka berpendapat bahwa Sidik berbohong dan janda tua itu di tembak mati.

Setelah Belanda dan pasukan Cakra pergi Chandra Hassan yang hanya bersenjatakan pistol saja keluar dari persembunyiannya yang diikuti anak buahnya, ialah Sersan Gani seorang keturunan Cina Swie King dan seorang pembantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *