Pada masa Raja Wisnuwardhana, Narasinghamurti diangkat sebagai Ratu Anghabaya sehingga dapat mernperkokoh persatuan di antara dua wangsa besar ini. Namun, sejak pengangkatan Sri Kertanegara menjadi Raja Singasari tampaknya pergulatan kepentingan antar keluarga besar di Singasari bangkit kembali. Persatuan yang demikian erat itu mulai sedikit bergeser ketika keduanya telah tiada.
Masa pernerintahan Raja Kertanegara adalah masa yang dinamis dan penuh gejolak dalam pemerintahan Singasari, Jabatan Narasinghamurti sebagai Ratu Anghabaya atau raja pembantu dihapus dari struktur birokrasi sehingga rnenyebabkan peran Dyah Lembu Ta! sebagai penerus Narasinghamurti tidak mendapat peran yang penting. Hal ini tentu saja menimbulkan sedikit ketidakpuasan dari sebagian besar Keturunan Ken Angrok-Ken Dedes yang merasa lebih berhak daripada keturunan Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada awal pemerintahan Sri Kertanegara pada tahun 1270 Masehi muncul pemberontakan yang dalam Pararaton disebutkan dipimpin oleh Kelana Bhaya dan dalam Negara Kertagarna dipimpin oleh Cayaraja yang disinyalir para pendukung Wangsa Rajasa.
Posisi Banyak Wide sendiri merupakan penasihat utama Wangsa Rajasa karena kedekatannya dengan keluarga ini sejak zaman Narasinghamurti dan senantiasa memberi nasihat yang diperlukan oleh Dyah Lembu Tal sebagai seorang wakil terkemuka dari wangsa ini. Hal ini diperkuat dengan ikatan pertemanan dan pengabdian keluarga Banyak Wide, seperti Lembu Sora dan Mpu Nambi yang mengabdi di Kediri dan begitu dekat dengan Nararya Sangramawijaya, sehingga nantinya akan menjadi pengikut setia dalam perjuangan mendirikan Majapahit.
(dinukil dari buku “Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru”, hal. 34-43, penulis Mansur Hidayat, Pustaka Larasan)
Artikel bersambung;











