Pada tabun 1762 Bindara Saod meninggal dunia kemudian diganti oleh putrarya yang kedua bernama Asiruddin…
Sejarah Madura
Berbagai informasi menarik tentang sejarah awal Pulau Madura, serta sejarah berdirinya wilayah di Pulau Madura termasuk perjuangan prajurit Madura melawan penjajahan
Perkawinan Ratu Tirtonegoro dengan Bindara Saod
Bindara Saod ditahan ditempatkan dekat pintu gerbang oleh Sang Ratu, setelah empat puluh hari, lalu…
Sumenep Setelah Pemerintahan Yudonegoro
Raden Bugan menyadari bahwa kedudukan yang baru dicapainya sebagai penguasa Sumenep, yang menjadi hak warisnya,…
Sumenep Masa Pemerintahan Tumenggung Yudonegoro
Tumenggung Yudonegoro banyak menurunkan raja-raja Sumenep yang antara lain Pangeran Rama dengan gelar Pangeran Cokronegoro II, Pangeran Jimat, Raden Tumenggung Wiramenggala, Raden Alsa (Pangeran Lobs) dan Ratu Tirtanegara
Pasarean Asta Tinggi Sumenep dan Nilai Kesejarahannya
Pasarean keluarga Raja-raja Sumenep terletak di desa Kebunagung dibangun para Adipati yang pernah memerintah di Sumenep. Komplek Asta Tinggi tersebut memiliki tujuh kawasan
Pertahanan Benteng Gresik dari Serangan Pasukan Madura
Situasi pertempuran yang menegangkan ini ditambah lagi dengan pasukan Kumpeni Belanda yang dipimpin Kolonel Moestich menembaki pasukan Madura sehingga banyak diantaranya yang berlumuran darah, pertempuran ini berlangsung hingga menjelang malam hari pasukan Madura
Bujuk Aji Gunung Menurunkan Ulama Madura
Raden Kabul alias Bujuk Aji Gunung lah yang menurunkan ulama’ – ulama’ di Madura termasuk yang berdomisili di luar Madura. Sisa-sisa peninggalan Buyut Raden Kabul antara lain yaitu Surau atau langgar
Sumenep pada Masa Kemerdekaan
Rakyat Sumenep berupaya mempertahankan setiap jengkal tanah, sekalipun dengan persenjataan yang sangat terbatas. Tapi semangat juang tetap berkobar dan tak bisa dipatahkan, karena semangat juang tak kenal lelah
Pondok Pesantren Loteng, Batasi Sepuluh Orang Santri
Tidak seperti pondok pesantren pada umumnya, ada kisah menarik di masa kepengasuhan Raden Bagus Hasan. Seperti yang diceritakan oleh salah satu pengasuh pondok pesantren Loteng saat ini, Raden Bagus Ali Rahmat, pada waktu itu tidak semua orang bisa mondok di pesantren Loteng dalam waktu yang bersamaan.
