Bahkan keuletan saja tidak cukup, orang Madura telah membuktikan dirinya sebagai pelaku ekonomi sangat berani dalam berkompetisi secara terbuka dengan pemodal besar. Misalnya ketika mereka secara terang-terangan melakukan transaksi bisnis (jual-beli) emas di depan toko emas, atau menjajakan perangko (termasuk amplop dan kertas surat) di kawasan kantor pos dengan rasa percaya diri dan tanpa rasa takut akan menderita kerugian. Padahal kemungkinan barang dagangannya tidak akan laku sangat besar. Lebih daripada itu, etos kerja ini selalu dilandaskan pada semangat religiositas.
Artinya, dalam upaya mencari nafkah orang Madura lebih mengutamakan kualitas (baca: halal) daripada kuantitas yang mengabaikan semangat itu. Realitas sosial-budaya ini tidak selayaknya disikapi dalam bentuk kecemburuan sosial. Bahkan sebaliknya keberhasilan tersebut dapat dijadikan faktor pemicu bagi orang-orang dari kebudayaan lain untuk bersaing secara terbuka dan jujur.
Berdasarkan paparan di atas akhirnya dapat diambil beberapa titik penting bahwa dari sebagian karakteristik sosial-budaya Madura yang tercermin dalam sikap dan perilaku orang Madura pada dasarnya menjadi landasan dan semangat bagi terbentuknya adaptasi dan integrasi sosial dengan orang-orang di luar Madura. Jika terjadi penyimpangan maka hal itu adalah suatu hal yang tidak perlu dijadikan alasan untuk menggeneralisasi sebagai sikap dan perilaku negatif semua orang Madura melainkan-sekali lagi-seyogianya dipahami secara proporsional dan kontekstual. (diakses dari: Media Kompas)
* A Latief Wiyata, pemerhati budaya Madura.









