
Ilham menoleh heran ke samping istrinya.
“Ada apalagi Len?”
“Ayah tidak ikut menikmati.”
Ilham terhenyak. Ia pun sebenarnya merasakan keterbatasan itu. Tapi semua sudah merupakan kehendak alam. Manusia berkeinginan lebih, tapi keterbatasan manusia akan selalu merasa kurang. Itulah manusia.
Keesokan harinya, mereka berdua segera mengunjungi tanah asal. Sesampai di tempat, mereka langsung menuju makam Pak Toha. Ia ingin berteriak nyaring di nisan itu, namun kerongkongannya terasa disekat oleh seribu sesal. Karena ayah angkatnya tidak sempat menikmati keberhasilan cita-citanya yang selama ini tergerak dan didorong oleh semangat Pak Toha. Kalau bisa, ingin rasanya ia membongkar kuburan itu, lalu membangunkan ayahnya dari tidur panjang untuk menunjukkan lembaran kertas kecil yang di dalamnya tertera nama Dra. Marlena binti Bruddin. Akhirnya Marlean hanya mampu melepaskan diri dalam tangis pilu.
“Jangan kauturuti nafsumu, dik. Bila kau terjebak oleh perasaan itu, bisa-bisa menjadi sirik,” ujar Ilham yang juga ikut terharu. “Tenangkanalah hatimu. Berdoalah agar arwah beliau selalu berada di tempat yang layak dan tenang di sisi Allah.”
“Maafkan aku mas. Aku khilaf. Aku telah terbawa arus perasaan,” seru Marlena seraya memeluk tubuh suaminya dalam tangis letih.
“Marilah kita berdoa, dan lepaskan semua beban pikiranmu,”ajak Ilham kemudian mengangkat kedua tangannya, diikuti Marlena. Keduanya dengan khusyuk memohon ampun ke hadirat Yang Maha Kuasa, semoga arwah almarhum selalu ditempatkan di tempat yang layak di sisiNya. Setelah itu keduanya meninggalkan tanah pekuburan dan pulang ke rumah peninggalan Pak Toha.
Berakhirnya kuliah Marlena, berarti telah meringankan beban kedua suami istri itu. Dan kini Marlena telah menetap di kota Malang dalam suasana rumah tangga tenteram dan bahagia. Sebagai istri seorang direktur perusahaan, derajat Marlena sebagai orang terpandang telah menjadi predikat di lingkungannya. Namun Marlena pandai membawa diri agar tidak terbawa arus gaya hidup sebagaimana yang kerap ia lihat pada istri-istri pengusaha lainnya. Dalam kancah modern ini banyak wanita-wanita terjebak dalam pola hidup jaman. Bahkan mereka dianggap terbelakang bila tidak mengikuti arus jaman, apalagi bila hanya terbenam oleh kodrat kewanitaannya.
Padahal, perempuan itu tak lebih sebagai pendamping suami. Meski ia sebagai istri pengusaha besar namun gaya hidup dan karirnya ia geluti sesuai dan selaras dengan tanggung jawabnya sebagai istri. Marlena pun kini aktif kembali dalam kegiatan karirnya. Ia kerap menulis dan menghadiri seminar-seminar. Bahkan karena prestasinya itu, Marlena kerap ditunjuk sebagai pembicara dalam suatu seminar khususnya seminar yang berkaitan ilmu yang dimilikinya. Tapi ia tetap mengutamakan statusnya sebagai istri.
Karir Ilham makin berkembang, hingga pada suatu ketika: “Sesuai dengan hasil rapat pimpinan tadi, perusahaan akan mengadakan ekspansi ke luar negeri,” ujar Ilham tatkala menikmati suasana rumah tangga.
“Baik sekali itu Mas. Lalu apa rencanamu?”
“Sebagai tahap awal, aku akan mengadakan negoisasi ke Jepang.”
Mendengar rencana suaminya itu, hati Marlena merasa tergetar. Marlena sendiri kurang tahu sebabnya. Hal ini tidak seperti yang dirasakan setiap kali suaminya berencana ke luar negeri. Ada isyarat aneh menutup aliran darah Marlena, seakan Marlena tersekat oleh perasaan khawatir.
“Lho, kenapa kau tidak setuju?” kata Ilham heran melihat perubahan wajah istrinya itu. (*)
Bersambung ……..











