Marlena, Perkawinan Kedua

Kesadaran dan pengertian itulah, yang menjadi kunci dari keberhasilan mereka. Ilham setiap saat harus  berkunjung ke Surabaya dalam satu rumah yang khusus dikontrak untuk Marlena. Meskipun demikian, tali hubungan dengan teman se kostnya dulu masih berjalan dengan lancar.

“Surprise yang mengharukan,” begitu kesan Lastri teman kostnya dulu pertama kali berkunjung ke rumah Marlena.

Keduanya pun bersenda gurau penuh kegembiraan.

“Tapi ingat, semua ini harus kau rahasiakan kepada teman kita yang lain,” pinta Marlena.

“Kasihan Agus,” seloroh Lastri.

“Hus, itu bukan kehendakku. Hanya ia sendiri yang menggebu-gebu.”

“Ehm…, tapi masih ada kamu Las.”

“Waah, kau ini. Apa yang dimintanya dariku?”

“Kau suka?”

“Suka sih suka, tapi….”

“Jangan kuatir, semuanya dapat diatur,” ungkap Marlena ringan.

“Len, kau membantuku,” Lastri berharap.

“Jangan kuatir nona manis. Sebenarnya aku sudah lama mengetahui hatimu. Sebab, aku sempat membaca buku diarymu,” aku Marlena. “Jangan marah, sebentar lagi lampu hijau akan bersinar,” tambahnya.

“Kau yakin?”

Mendengar ucapan itu Marlena hanya mampu tertawa lebar, seakan gadis di hadapannya itu bola mainan yang ditendang melambung ke angkasa harapan.

Hati Lastri pun terasa lega, melihat kenyataan bahwa Marlena telah direbut orang lain. Berarti ia banyak kesempatan mencuri hati anak sastra itu sekaligus sebagai ketua senat. Dan sejak itu ia diperkenalkan Marlena, hatinya terasa bergetar menyentuh telapak tangan Agus ketika keduanya bersalaman. Namun maksud itu, segera terjegal setelah Lastri tahu, ternyata Agus sebenarnya punya maksud hati terhadap Marlena. Dan saat itu kobaran hatinya padam. Setelah semua jelas, kobaran itu menyala kembali seakan dirinya ikut terbakar arus cinta yang terpendam.

Marlena memang membuktikan ucapannya. Sebagaimana yang pernah ia lakukan terhadap Sunarti dan Pak Jamil, sewaktu di SMA dulu. Dan kini dalam suasana yang berbeda, Marlena kembali mengandalkan keterampilannya memancing arus hati Agus, akhirnya Agus terjebak kail yang dilempar oleh cara Marlena itu. Itulah kelebihan lain yang dimiliki Marlena.

Sementara pertemuan cintanya direkayasa oleh kenyataan lain. Marlena hanya mampu berpasrah menghadapi kenyataan itu. Demi kelangsungan hidup rumah tangganya, Marlena terus berusaha mencapai pulau kebahagiaan itu dengan biduk-biduk yang terayun di lautan waktu, sehingga nampak jelas bila gaya hidup rumah tangga semacam itu, akan banyak rintangan yang dibilas arus dan gelombang. Itu semuanya mereka lakukan dengan hati tabah dan percaya.

Hingga semester terakhir, Marlena masih tetap merengkuh harapan-harapannya yang hampir terjegal oleh kenyataan hidupnya. Namun berkat dorongan semangat dari Ilham, semuanya berjalan lancar tanpa beban yang memberatkan keduanya. Dan keadaan di Madura kini tidak mengalami permasalahan-permasalahan baru, yang mengganggu konsentrasinya, baik keadaan rumah tangganya maupun perjuangan selama kuliah. Lantaran Fajar telah kembali ke kampung halamannya sebagai salah seorang pejabat di Kantor Pertanian. Sehingga rumah peninggalan almarhum Pak Toha, kini telah berpenghuni kembali dalam suasana kemeriahan yang lain. Bahkan, kakak perempuannya berhasil dalam karirnya sebagai pembela rakyat kecil, yang selama ini dikhawatirkan Marlena. Sehingga cita-citanya yang tertunda telah direalisasikan oleh Fatimah dan Fajar dalam kondisi berbeda.

“Sebenarnya tugas kami diilhami oleh latar belakang kehidupanmu,” komentar Fatimah, sesaat Marlena memuji keberhasilan kedua kakaknya itu.

“Aku banyak membaca di koran tentang keberhasilan pembelaanmu du pengadilan.”

“Itu kewajiban. Cuma kadang-kadang wartawan selalu melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya.”

 “Sebenarnya bukan melebih-lebihkan, cuma itu merupakan bumbu penyedap saja,” sahut Fajar saat semua keluarga berkumpul di rumah warisan itu.

“Tapi sebaliknya bila gagal, akan menjadi korban gosip yang tidak manusiawi.”

“Yang itu namanya pelajaran,” komentar Darwis kepada istrinya.

“Kita ini memang selalu terkungkung oleh suatu keadaan di sekitar kita. Sedikit kita tergelincir, akan menjadi pembicaraan negatif di masyarakat kita,” ujar Marlena menyesali keadaan masyarakat selama ini.

“Apalagi di Madura. Jangan suara, desahpun akan terdengar di mana-mana,” kata Fajar.

“Yah itulah hidup. Kalau tidak demikian kita ini seperti benda mati,” Ilham juga nimbrung.

Perbincangan itu terus berlanjut hingga larut malam. Meski demikian  keluarga besar itu, tidak merasa kelelahan, karena saat inilah saat yang penuh keakraban untuk melepaskan rindu dalam suasana seperti masa-masa remaja mereka dulu bersama ayah dan ibunya.

Pertemuan keluarga ini dilaksanakan bertepatan dalam memperingati seribu hari atas meninggalnya ayah mereka. Menurut hasil kesepakatan bersama, untuk menjalin hubungan silaturrahmi dan keakraban yang terpatri dari keluarga Pak Toha, diadakan pertemuan keluarga setiap bulan secara rutin. Dengan demikian, permasalahan masing-masing keluarga itu dapat dijadikan acuan untuk mengantisipasi keadaan rumah tangga mereka. Tak heran, bila keadaan rumah tangga Ilham dan Marlena mampu bertahan, meskipun sebenarnya antara suami istri itu selalu diburu oleh kenyataan tidak sebagaimana kehidupan rumah tangga layaknya.

Keberhasilan Marlena akhirnya diraih, setelah berjuang keras menentang arus di IKIP Surabaya, dan kini keberhasilan telah digenggamnya sebagaimana harapan para mahasiswa umumnya.

Hati Marlena terasa bergetar ketika Rektor mengukuhkan dirinya sebagai mahasiswi yang berhasil mencapai predikat memuaskan. Baju toga yang ia kenakan menjadi lambang kemenangan yang selalu dicita-citakan. Sesaat pewisudaan dilaksanakan, lalu menerima sertifikat keberhasilan selama menenun nasib di kampus. Getaran jantung Marlena seakan tidak mampu membendung rasa haru dan bahagia yang berkecamuk di dada. Lalu meluncurlah butiran air bening yang tertahan di balik kelopak matanya. Tanpa ia sadari, rembesan air itu semakin mengerakkan tangis haru.

“Mas aku berhasil,” begitu seru Marlena setelah diwisuda dan kembali di samping suaminya.

“Bersyukurlah, semua ini berkat perjuanganmu,”

“Tapi?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *