
Waktu sebulan telah tiba. Dengan dada bergetar, Marlena menunggu kedatangan Taufik dalam pikiran yang mengambang. Ia tidak tahu, apa yang akan diperbuatnya nanti. Ia seakan terjerat dalam satu sudut tembok, yang akhirnya harus menyerah dalam keadaan bagaimanapun.
Marlena ternyata menyerah, ketika bayang-bayang di hadapannya membentuk satu wajah. Wajah yang sangat dikenalnya. Wajah kekasihnya yang kini hadir di hadapannya. Wajah Taufik.
“Kau nampak tua dan legam,” batin Marlena setelah berhadapan dengan Taufik.
Pertemuan itu terasa asing dan kaku. Hampir tidak terdengar ungkapan-ungkapan manis sebagaimana yang diharapkan Marlena sebelumnya. Tapi di balik hati keduanya sebenarnya penuh keriuhan yang ditimbulkan oleh semangat rindu, tapi yang terlontar hanya ungkapan-ungkapan kecil yang mengarah pada keadaan ketika masa-masa mereka.
“Kau tidak menyesal Fik,” kata Marlena mengajukan permasalahan Taufik untuk kembali kepadanya.
“Sebagaimana yang pernah kukatakan dulu. Sampai kapanpun aku tidak akan menyesal,” tegas Taufik. “Apalah artinya hingga aku bertahan dalam keadaan sendiri hingga sekarang ini?”
Kalimat itu ternyata menyentuh hati Marlena dan menggetarkan detak jantungnya yang semakin diburu penyesalan. Marlena sadar dan faham, janji Taufik sebagaimana yang pernah diharapkan dulu, kini telah ditagih kembali. Tagihan tanpa dipinjam itu telah membulatkan tekad Taufik untuk memiliki kepingan hati Marlena yang pernah terungkap di hadapan Taufik.
“Aku mengerti Fik, tapi keadaan kini jauh lebih parah ketika kita bersama dulu,” kata Marlena memberi pertimbangan.
“Sudah kukatakan, aku tahu segalanya. Justru menurutku saat inilah saat yang paling tepat bagi kita. Sebagaimana cita-citamu dulu, setelah berhasil meraih pendidikan akan kau sebar luaskan ke masyarakat luas.”
Kali ini Marlena terjebak oleh cita-citanya sendiri. Cita-cita seorang wanita desa yang berharap agar kaum sejenisnya tidak sampai terbelenggu oleh keadaan lingkungan yang sempit. “Tugas kita yang paling berat sekarang, bagaimana kita dapat merangsang minat juang kepada wanita-wanita pedesaan,” kata Marlena suatu ketika dalam seminar. Dan kini cita-cita itu masih tersisa dan terpendam di lubuk hatinya. Cita-cita yang diilhami oleh kenyataan wanita-wanita Desa Lebak, yang selalu menyerah dan pasrah, meskipun sangat bertentangan dengan hatinya sendiri. “Tapi benarkah semua ini akan terjadi?”
Ketika Marlena mengenang kembali saat-saat perjumpaannya dengan Taufik, matahari pagi masih menyorot tajam. Dan kini Marlena nampak lebih segar, seperti sekuntum bunga yang mulai menampakkan kesegarannya dalam keindahan alami setelah tersiram oleh segarnya air bumi. Seperti kapal, Marlena siap berlabuh dengan sejuta harapannya mengarungi gelombang lautan ke seberang pulau impian dengan sejuta garapan tanah baru. Demikianlah kemantapan hati Marlena yang kini telah menyatu dalam rangkaian cinta, cita-cita dan pergulatan nasib hari depannya.
“Kau nampak segar sekali,” tegur Fajar ketika Marlena menikmati udara pagi.
“Begitulah,” sahut Marlena penuh harapan.
“Jadi tekadmu sudah bulat.”
“Mungkin inilah yang terbaik kak. Mudah-mudahan ini yang terakhir.”
Yang terakhir dalam suatu penantian yang panjang. Cinta manusia yang tertunda lantaran bisingnya percakapan waktu dan waktu telah menjejali nasib ke arah jalan yang berbeda. Dan kini keduanya, dipertemukan kembali dalam ikatan batin yang kokoh.
Marlena tidak bisa berkata apa-apa, kecuali rasa syukur ke hadirat-Nya. “Insya Allah, bila Tuhan mengizinkan kita akan bersatu kembali,” begitu bunyi surat terakhir Marlena ketika memutuskan jalan masing-masing kepada Taufik. “Inikah yang disebut takdir?” batin Marlena.
Sisa waktu yang tinggal beberapa saat lagi, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Marlena. Karena sesaat lagi ia akan berpisah dengan sejuta kenangan yang tersimpan di tanah Madura ini. Tanah kelahirannya.
“Insya Allah, sebulan lagi aku akan meminangmu, sekaligus mengawinimu,” begitu kepastian Taufik menggempur semangatnya tempo hari.
“Begitu pendek waktu ini, ia bentangkan,” kata hati Marlena.
Namun Marlena tidak dapat menolak, semuanya telah diatur oleh kekuatan yang tersembunyi di balik hati masing-masing. Itulah salah satu kelebihan Taufik sebagi lurah.
Bersambung ……..











