Marlena, Bias-Bias Harapan

Semangat itu muncul saat Marlena mengenang kembali, ketika pertama ia terjun dalam dunia baru. Dunia yang kini telah diraihnya. Kemudian ia sadar, saat menemukan kembali secarik kertas kumal yang sengaja disimpan ketika pertama kali tampil di atas panggung pada waktu masih duduk di kelas dua SD Desa Lebak. Lembaran kertas itu yang mengisyaratkan kebangkitan semangat perjuangannya dalam melawan hidup. Semangat Chairil Anwar, begitu sering Marlena menyebutnya.

Ia buka kembali kertas lusuh yang di dalamnya masih nampak jelas hasil tulisan tangannya delapan belas tahun yang lalu. Ia baca kembali kalimat demi kalimat yang hampir tidak tampak lagi goresan-goresannya. Meski dia hafal betul kalimat itu, ia masih ingin membacanya dengan suara lantang dan tegar. “Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih perih. Dan aku akan lebih tidak peduli. Aku mau hidup seribu tahun lagi.”

Begitulah Marlean. Ia kini telah bangkit dan bergerak menambang semangat baru yang sempat tertunda di halaman laut waktu lalu. Ia kini aktif, menjejak hidup melalui karirnya. Sebagai penulis, sebagai pemikir yang berjiwa sosial, sebagai manusia yang penuh arti dan sebagai wanita panutan wanita lainnya. “Aku harus tegar,” batin Marlena penuh keyakinan.

Dan hari-hari Marlena diisi dengan kegiatan sosial, utamanya diarahkan kepada kaum fakir miskin dan yatim piatu.

“Aku salut atas keberhasilanmu,” puji Fajar setelah Marlena memuaskan diri dari hasil kerjanya.

“Berkat dorongan Mas Fajar.”

“Bukan, berkat semangatmu yang menyala.”

“Itulah kak. Aku hampir tidak percaya, bila sebenarnya masih tersisa semangat di dadaku.”

“Bukan tersisa, tapi tertunda. Dan kini saatnya melanjutkan cita-citamu itu.”

“Yah, sampai hidup seribu tahun lagi,” ujar Fajar dibarengi gelak tawa keduanya.

Hingga pada suatu hari, ketika Marlena menikmati sisa waktu, tiba-tiba dikejutkan kedatangan sepucuk surat yang disodorkan tukang pos.

“Dari Banjarmasin,” kata  tukang pos.

Mendengar alamat itu, Marlena timbul tanda tanya. Namun tanda tanya itu segera terjawab, ketika ia membaca pengirimnya.

“Taufik?” serunya hampir tak percaya. Lalu ia bergegas membuka sampul surat di tangannya. Dengan tangan gemetar dibukanya lipatan kertas itu. Getaran tangan Marlena ternyata getaran hatinya yang kian ditumbuk rindu.

“Dik Lena. Tiba-tiba hatiku tergerak menulis surat ini. Meski ragu, aku memberanikan diri mengabarkan keadaanku sekarang ini. Berkat semangat yang kita bina dulu, kini aku telah berada di Banjarmasin dalam suatu tugas negara. Dik Lena, pada suatu ketika aku dapat kabar salah seorang teman kita yang kebetulan berkunjung ke sini, lalu ia ceritakan segalanya tentang dirimu. Sekian. Maafkan bila kau tersinggung karenanya. Salam manisku. Taufik.”

Dalam gemetar itu, tiba-tiba jiwa dan pikiran Marlena serasa dibawa terbang keluar angkasa impian dan kenangan. Ia merasa berdosa telah membohongi kenyataan yang sebenarnya. Kenyataan yang kerap mengganggu pikirannya, bila suatu ketika membuka album foto lama, foto kenangan, foto kemenangan dalam suasana masa remaja dulu.

“Taufik,” batin Marlena menyebut nama bekas kekasihnya tak henti-henti. Nama yang pernah mengukir kisah cinta di hatinya. Ia masih ingat, ketika berdialog kecil yang menggelarkan harapan-harapan besar.

“Seni itu perlu dalam politik. Karena tanpa seni, politik akan menjadikanmu cerai berai,” ujar Marlena ketika itu. Lalu kata Taufik: “Untuk itu, yang menyatukan nanti adalah dirimu,” yang ternyata Taufik pun mengambil jurusan sosial politik di Universitas Jember.

“Bila Tuhan mengizinkan,” sahut Marlena menanggapi harapan Taufik.

Itu terjadi ketika keduanya masih duduk di bangku SMA, tapi kenyataan kini telah berubah. Tentu Taufik telah menenun kebahagiaan dengan wanita pilihannya. Begitu rabaan Marlena.

“Len, dapat surat, “ kata Fajar tiba-tiba mengejutkan lamunannya.

“Dari Taufik,” jawab Marlena tergagap.

“Yah, mudah-mudahan kabar baik,” kesan Fajar menyinggung.

“Kakak ada-ada saja,” tanggap Marlena seraya mencubit tangan Fajar.

Menerima cubitan adiknya, Fajar kesakitan dan menjerit hingga Marni istrinya yang berada di dalam kaget karenanya.

Ada apa ini. Seperti anak kecil saja,” kata Marni.

“Ini lho. Si Lena mendapat surat dari …..”

“Ah, kak Fajar. Cuma surat dari teman lama kok.”

“Begitu saja mengagetkan,” timpal Marni jengkel bercampur geli.

Dan hari-hari selanjutnya Marlena mendapat pekerjaan baru, setelah menerima surat dari Taufik. Waktu-waktu kosongnya banyak dimanfaatkan menggali kenangan lama, yang kian waktu semakin menganga lebar di benak Marlena. Bila rasa sepi tiba, Marlena membuka kembali surat Taufik untuk mengenang kembali masa remaja. Bila sudah demikian, Marlena tak ubahnya seperti sebuah pulau sebagai tempat penantian.

Setelah itu, surat-surat Taufik sering datang. Marlena pun membalasnya dengan rasa bangga. Kemudian terjadilah jalinan benang rasa yang sempat terputus. Keduanya sepakat  untuk menyambung kembali benang-benang itu, untuk dijadikan tali ikatan kedua hati yang dirundung rindu.

Melihat keceriaan adiknya, Fajar dan Fatimah turut bangga. Paling tidak, Marlena telah menemukan kembali keping hatinya yang sempat hilang karena arus waktu. Kedua kakaknya mendukung jalinan adiknya bersama kekasihnya dulu. Hingga pada surat terakhir, Taufik hendak berkunjung ke tanah asal di mana keduanya pernah merajut benang cinta.

“Aku bulan depan mengambil cuti untuk mengunjungimu,” begitu kata surat Taufik.

Dalam sebulan itulah, justru Marlena semakin tersiksa oleh kenyataan yang bakal dihadapi. Seakan ia ditekan oleh keadaan, sehingga Marlena serasa salah tingkah setiap kali menghitung sisa waktu sebulan itu.

“Biasanya untuk menyambut dambaan hati, harap-harap cemas,” gurau Fajar. “Berharap kepastian kedatangannya dan cemas bagaimana memulainya.”

“Wah, kakak selalu mengganggu saja.”

“Habis, aku lihat aneh saja.”

“Aneh bagaimana, apa aku ini sinting?”

“Jelas. Kalau tidak, kenapa kau salah tingkah?”

“Pokoknya bila nanti dia datang, kak Fajar yang menemuinya.”

“Lho, mulai kapan kamu jadi pengecut? Justru bila ia datang, akau dan Marni akan mengungsi.” Fajar berolok-olok, lalu meninggalkan Marlena.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *