Le-alle Bengko, Permainan Anak Madura yang Kompetitif

Apabila kelompok A sulit untuk pindah rumah, sanksinya ialah ganti tempat bermain. Artinya kelompok A menyerah se­hingga kelompok B sekarang pemilik rumah, sedangkan kelompok A ganti berusaha memperebutkan rumah B. Demikian seterusnya sampai anak-anak merasa bosan bermain dan lelah. 

Analisa 

Permainan le-alle bengko merupakan suatu permainan anak- anak yang hanya terdapat dr pulau Madura, yakni di bagian barat kota Sampang dan di desa-desa pesisir. Permainan ini menggambar­kan. suatu permainan anak-anak khas Madura yang mempunyai ciri dari alat permainan yang dipergunakan yakni berupa tiang dari teras rumah taneyan lanjang. Apabila kita artikan kata “le-alle bengko” ini, terdiri dari dua kata yakni alle dan bengko. Alle artinya “pindah” sedangkan bengko artinya “rumah”,. Kata bengko itu sendiri yang diumpamakan “rumah”, Pengerfian “rumah” di sini bukanlah rumah yang sebenarnya, akan tetapi tiang tempat pangkal anak-anak bermain yang diumpamakan rumah.

Seperti telah diketahui bahwa permainan le-alle bengko ini merupakan gambaran dari bentuk kebudayaan Madura, yang telah melatar belakanginya, karena alat yang dipergunakan adalah tiang rumah yang telah tercipta dalam arsitektur daerah itu. Hal ini, karena bentuk rumah-rumah di pulau Madura mempunyai gaya arsitektur yang tersendiri, di mana setiap sudut mempunyai tiaiig teras yang dalam bahasa Madura disebut “soda”, dan sudut “soda” rumah inilah yang diumpamakan sebagai bengko (rumah) dalam permainan.

Penduduk Madura merupakan suatu kelompok besar. Dalam pengelompokan masih terdapat beberapa kelompok kecil antara lima sampai sepuluh rumah dengan jajaran rumah yang memanjang atau saling berhadapan dan merupakan suatu keluarga besar atau keluarga luas (extended family), yang disebut “taneyan lanjang” (yang berarti halaman panjang). Rumah taneyan lanjang umumnya dihuni oleh satu keluarga besar (extended family) yang terdiri dari kakek — nenek dan anak-anaknya, termasuk anak yang sudah ber­keluarga. Jadi satu keluarga satu petak. Tiga atau empat keluarga (yang sudah berkeluarga), terdiri dari tiga – empat petak menyatu dalam satu atap rumah yang memanjang ke sisi, terjadilah rumah- rumah dengan taneyan lanjang. Hal ini sesuai dengan falsafah hi­dup orang Madura di desa-desa yang menyatakan “makan tidak makan pokoknya kumpul” yang memungkinkan terbentuknya rumah taneyan lanjang ini, sekali pun hidup mereka kekurangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.