Gempuran, Permainan Rakyat Madura

  1. Unsur gotong royong. Kegotong-royongan dalam melaku­kan permainan ini sangat tampak, yang dimaksud dengan ke­gotong-royongan dalam permainan seperti yang telah disebutkan di atas, yakni keija sama untuk mencapai sesuatu. Misalnya, ke­tika salah seorang dari anggota kelompok A (pelempar bola) tidak berhasil melemparkan bola ke arah tumpukan gerabah, maka tugasnya digantikan oleh temannya yakni dari kelompok yang sama. Begitu pula bagi kelompok B (besang), apabila lawannya (kelompok A) berhasil melempar dan mengenai sasaran tumpukan gerabah, maka bola harus segera ditangkap dan lalu melemparkan­nya kepada temannya yang sekelompok agar segera menembak­kan ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A). Jadi maksud­nya, agar kelompoknya (kelompok B) berganti fungsi jadi pe­lempar bola. Dengan demikian di sini tampak sekali keija sama di antara para pemain.
  1. Unsur demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi di sini adalah dalam pemilihan kawan sekelompok, yakni mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya sebaya, sama tinggi dan sama kuat, sehingga dua kelompok itu mempunyai dua kekuatan yang sama. Caranya, yakni dengan melakukan “suten”. Pihak yang me­nang bergabung dengan kelompok yang menang dan yang kalah bergabung dengan yang kalah.
  2. Unsur persatuan. Rasa persatuan di dalam memainkan permainan ini tampak, yakni ketika kelompok A akan melawan kelompok B. Di sini masing-masing anggota kelompoknya bersatu sehingga menjadi suatu permainan yang benar-benar kompak.
  3. Kepatuhan Ketika salah satu kelompok telah berhasil memenangkan sawahnya dengan jumlah yang telah ditentukan se­belumnya, maka kelompok yang menang itu harus digendong oleh kelompok yang kalah. Hal ini merupakan konsekuensi dari kalah menangnya suatu permainan yang harus dilaksanakan.

Selain unsur-unsur tersebut di atas, dalam permainan ini tampak adanya pengembangan fisik mau pun mental. Dalam peng­embangan fisik yakni ketangkasan dan ketrampilan, sedangkan dalam pengembangan mental yakni kecermatan karena dapat memperkirakan. Contohnya, ketika salah seorang dari anggota kelompok A akan meruntuhkan tumpukan gerabah, di sini tampak bahwa si pelempar dengan cermat dan dapat

Pada saat ini permainan gempuran mengalami kemunduran bahkan hampir punah, padahal permainan tersebut sebagai salah satu bentuk kreatifitas yang sehat. Banyak nilai edukatif yang terkandung dalam permainan ini, akan tetapi permainan ini kurang mendapat perhatian. Hal ini. dikarenakan para pendidik dan orang tua kurang menyadari manfaat permainan ini bagi perkembangan anak-anak. Malahan kadang kala dianggap permainan yang meng­ganggu, karena rusaknya halaman, debu yang beterbangan, ke­gaduhan suasana dan mengganggu lalu lintas orang di tepi jalan atau pun di halaman rumah. Atau dapat pula karena anak-anak lebih menyenangi permainan yang sudah modern, karena masuk­nya teknologi modern memperkirakan bisa meruntuhkan tumpukan gerabah.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 82-91. Dari http://jawatimuran.wordpress.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.