Gema Kyai Semantri Prajan Melawan Kafir Belanda.

Kyai Prajan, Barisan dan Mentalitas Inlander

Oleh:Syarif Hidayat Santoso

Ilustrasi

Sejarah tentang Kyai Semantri Prajan yang melawan Belanda serta Tentara Madura binaan Belanda yang disebut Barisan hampir tidak pernah kita dengar kecuali melalui tradisi lisan (oral tradition) orang-orang sepuh dahulu. Nama Kyai Semantri Prajan memang kalah tenar dibandingkan tokoh Trunojoyo maupun pejuang Madura lainnya lalu. Padahal, menurut Almarhum Kuntowijoyo (1989), pemberontakan Kyai Semantri dari Prajan merupakan pemberontakan penting rakyat Madura abad 19.

Kyai Semantri Prajan merupakan salah satu tokoh yang disegani oleh komunitas Madura saat itu. Catatan pemerintah Hindia Belanda seperti yang termaktub dalam Javaasch Courant dan De Lokomotief menyebut bahwa Kyai Semantri merupakan magnet hidup populer bagi masyarakat Sampang. Langgarnya sering dikunjungi masyarakat perdikan Prajan dan kampung sekitarnya serta menjadi basis mobilisasi melawan Belanda. Kyai yang satu ini dituding oleh pemerintah Belanda sebagai tokoh pelanggar peraturan kolonial Belanda dan karenanya harus dihabisi. Langgar dan kampungnya diserang milisi Barisan pada 10 Desember 1895 (Kuntowijoyo:1989)

Perlawanan Kyai Prajan yang dipadamkan Barisan merupakan sebuah pelajaran penting dalam sejarah kolonialisme Belanda di Madura. Kyai Prajan dan Barisan menunjukkan dua sisi dikotomis kemerdekaan yang diperjuangkan di Madura masa itu. Yaitu terdapat tokoh pribumi anti Belanda serta terdapat pribumi Madura yang mau menghamba kepada Belanda. Barisan sendiri merupakan militer Madura dibawah komando pemerintah kolonial serta dibina instruktur Eropa sejak tahun 1813 sampai menjelang perang dunia Kedua. Sejak pertengahan abad 18, sebagian rakyat Madura memang sudah membantu Belanda dalam perang Cina Jawa tahun 1741-1743, Perang Padri, Perang Diponegoro, Perang Aceh bahkan berdinas di Benteng-benteng Belanda di Srilangka, Malaysia dan Makassar.(Huub De Jonge:1989).

Milisi Madura ini biasa diledek sebagai Belanda hitam. Data lain menunjukkan bahwa Marechaussee (Marsose) yang terkenal dalam Perang Aceh sebagian diantaranya berasal dari Madura dan terkenal akan kebengisannya. Fakta inipun didukung oleh folklor rakyat Sumenep tentang legenda Pangeran Dipenogoro yang ditawan Barisan di Benteng Kalimo’ok usai perang Diponegoro. Seperti yang diuntai dalam cerita rakyat Sumenep, pangeran Diponegoro yang tertawan Belanda kemudian ditukar dengan tokoh Jidin yang wajahnya mirip Diponegoro asli. Jidin (Diponegoro palsu) inilah yang kemudian dibawa Belanda menuju Manado dan Makassar untuk menjalani masa pembuangan.

Terlepas benar tidaknya legenda Diponegoro dalam folklor Sumenep, hal ini sudah membuktikan tentang adanya mentalitas keberpihakan orang Madura terhadap Belanda seperti yang ditunjukkan militer Madura dalam Barisan dan juga sebagian raja-rajanya. Mentalitas inilah yang dalam studi budaya sering disebut mentalitas inlander, dimana seorang rakyat atau penguasa harus bermental pamongpraja dan mau mengabdi utuh kepada kekuasaan tuannya. Mentalitas inlander dalam sejarah Madura telah melanggengkan kolonialisme pikiran yang ditanamkan hidup-hidup dalam otak sebagian rakyat Madura. Mentalitas ini telah meminta korban yaitu dihabisinya perlawanan jihad fi sabilillah yang digemakan Kyai Semantri Prajan untuk melawan kafir Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.