Carok dan Stigma Madura

Ilustrasi carok

Perangai, sikap, dan perilaku “keras” yang kadangkala muncul tanpa disadari atau disengaja, berawal dari kondisi- kondisi kultural. Dalam hal ini orang Madura memiliki ungkapan mon kerras, pa akerrѐs, bahwa “kerasnya” mereka tetap harus dilandasi dengan kewibawaan, yang hal itu harus mampu diimplementasikan dan dimanifestasikan dalam keseharian. Sehingga perangai, perilaku, dan sikap “keras” mereka dapat dimaknai sebagai kekerasan konstruktif yang berwibawa. Sebab, mempertahankan kewibawaannya, juga keluarganya.

Carok merupakan penyelesaian puncak dari sebuah permasalahan. Sebelum terjadinya carok ada peringatan untuk tidak mengulangi perbuatan yang dianggap mengganggu. Namun ketika peringatan itu tidak diindahkan, maka baru muncul ucapan tantangan untuk membuktikan kejantanan siapa yang berhak atas perempuan yang diperebutkan.

Laki- laki Madura tidak mudah menjatuhkan tangan (melakukan kekerasan) pada setiap persoalan yang dihadapi. Akan tetapi mereka benar-benar bisa memilih dan memilah persoalan yang perlu disikapi dengan serius. Artinya ada waktu untuk mencoba merundingkan atau sekadar mengingatkan jika hal itu diperlukan. Selama itu bukan persoalan yang dianggap mengganggu harga diri, mereka masih bisa menyelesaikannya secara baik- baik tanpa ada kekerasan.

Jadi apa yang menjadi streotipe orang Madura adalah keras dan bengis itu tidak sepenuhnya benar. Karena keras dan bengisnya mereka dilatarbelakangi/ ada penyebab sesuatu hal yang memang harus dijaga dan dipertahankan sampai mati seperti ungkapan angoa’an potѐ tolang bhȃng-tѐmbhȃng potѐ mata (lebih baik mati berkalang tanah, daripada menanggung malu).

Perasaan malo atau malu bukanlah sekadar ungkapan biasa. Hal tersebut merupakan kondisi psikis yang reaktif yang hadir secara spontan.  Tentu, sebagai suatu pengingkaran atau tidak merima dalam diri sendiri maupun keluarga yang meliputi keluarga inti maupun keluarga tambahan (paman, bibi, ponakan dan sebagainya).

Carok bukanlah semata-mata tindak kekerasan dari laki- laki Madura, akan tetapi bentuk ketegasan agar kehormatan dan harga diri mereka tidak diinjak- injak atau disepelekan lagi. Sehingga tidak ada lagi yang berani mengganggu atau menyepelekan ghȃbȃngan  orang lain dan pada akhirnya carok bisa dihindari atau tidak akan pernah terjadi.

Tak dapat dipungkiri bahwa pikiran manusia Madura semakin berkembang sehingga kemudian carok menjadi pro dan kontra diantara mereka. Semua itu selalu menjadi bahan wacana dan diskusi, apakah tradisi masa silam berupa carok ini masih perlu dipertahankan atau tidak, ketika ghȃbȃngan masih ada yang mengganggu?

Upaya untuk menghilangkan asumsi negatif harus dilakukan tahapan demi tahapan sedini mungkin oleh orang Madura, utamanya dari generasi muda. Reaktualisasi sebagai jalan untuk mengembalikan kepercayaan orang- orang luar Madura dan membangun citra positif bagi orang Madura.

Pertama, perlu dilakukan introspeksi diri. Sikap ini sejatinya kembali pada diri kita sendiri untuk menyadari segala tindak perilaku yang tidak baik, yang bertentangan dengan hukum negara dan agama, seyogyanya dapat diperbaiki dan dihindari.

Kedua, meningkatkan pendidikan baik formal maupun non formal secara penuh.Tingkat pendidikan yang seimbang pada nantinya akan membentuk kepribadian masyarakat Madura lebih beradab secara perlahan- lahan. Pesantren sebagai tradisi Madura merupakan lembaga nonformal yang banyak memberikan kontribusi besar pada pembentukan watak, karakter, dan sikap orang- orang Madura.

Ketiga, di masa mendatang perlu adanya revitalisasi kepemimpinan yaitu dengan menyingkirkan figur blater yang berbasis ke-jago-an di bidang kekerasan dan menempati tataran atas karena ditakuti, diganti dengan figur tokoh masyarakat yang benar- benar disegani karena memiliki sikap ke-tawadhu-an pada sang pencipta dan loyalitas pada masyarakat. Sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum/ aturan yang berlaku akan semakin tinggi serta moralitas yang diteladani dari pemimpin juga akan terbentuk pada masyarakat Madura secara keseluruhan. Dengan demikian kembalinya citra positif orang Madura, pada akhirnya akan menjadi ruang tersendiri bagi keberadaan orang- orang Madura di mata orang luar dan perantauan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *