Ketokohan dan Keteladanan Arya Wiraraja

pendopo-agung
Pendopo Agung Sumenep

Seorang karena manusiawi, pastilah memiliki kebaikan dan keburukan, kelebihan atau kekurangan. Dalam hal ini akan meninjau dari “kebaikan atau kelebihan” agar mempelajari sejarah memperoleh hikmanya.

  1. Tahu membaca jaman

Akibat kemahiran berdaya tebak sehingga siapa “coming” man yang akan muncul sebagai penguasa, maka Arya Wiraraja mengikuti jejak ini, sehingga tindakannya mirip dengan tindakan insan politik jaman kini. Bagi orang yang tidak mengikuti “membaca jaman”, tindakan Arya Wiraraja ini akan dianggap sebagai penghianatan, seperti pengmbaraan dari Dr. H. J. De Graff.

Mengingat pendirian demikian, maka ia pastilah “anak jaman”, “Wongira” orang yang berkuasa/akan berkuasa. Hal ini terbukti  dari keteladanan Arya Wiraraja:

  • Mengabdi kepada Kertanegara sebagai Adipati Songennep.
  • Mengingatkan jayakatwang untuk menumbangkan Kertanegara, dan kawannya Empu Raganatha.
  • Memberikan perlindungan kepada R. Wijaya dan menjanjikan untuk menolong jadi Raja.
  • Membujuk tentara Mongol/Tartar untuk bersama R. Wijaya menumbangkan Jayakatwang.
  • Bersama R. Wijaya menghancurkan tentara Mongol/Tartar
  • Memberikan puteranya menjadi korban pemberontakan terhadap R. Wijaya. (Peristiwa Rangga Lawe).
  • Menjadi “Gubernur”Lumajang, dan dari sana membiarkan Nambi memberontak terhadap R. Wijaya.

Mengingat kepekaan “membaca jaman” ini, arya Wiraraja dalam semua tindakannya bagaikan “kontrofersi”. Barangkali hal ini ia sebagai “anak jaman” merupakan produk pada jaman itu, dimana tokoh Kertanegara  juga banyak membuat kontroversial.

  1. Nasionalisme

Dimana saja ia bertugas, tanpa pandang suku dan wilayah, dilaksanakannya dengan baik. Sejak di Singosari, songennep, Mojopahit, sampai di Lumajang, ia bekerja dengan baik, sehingga ia di semua tempat tersebut dihormati dan dianggap sebagai pemimpinnya.

  1. Setia pada tugasnya

Manifestasi kesetiaan Arya Wiraraja ini akan tugasnya tidak pernah menolak tugas. Ia dengan setia menempati pos kerjanya.

  • Sebagai “babatananira” ia berdomisili di Singosari.
  • Sebagai Adipati ia berdomisili di Songennep.
  • Sebagai “pelindung” ia aktif mendirikan Mojopahit.
  • Sebagai rakyat menteri ia berdomisili di Mojopahit.
  1. Sebagai kuasa usaha Blambangan ia berdomisili di Lumajang akhir hayatnya.

Manifestasi kesetiaannya ini juga tercermin dalam sikap diamnya ketika mengetahui puteranya Ranggalawe dibunuh secara kejam ketika mengadakan pembangkangan terhadap Raden Wijaya. Demikian pula terhadap Nambi yang melakukan dari Lumajang sendiri.

Manifestasi sikap diam dan kesabaran Arya Wiraraja ini merupakan kesetiaan yang tinggi pada jaman tersebut, yang tercermin ketika pertama kalinya “dijauhkan” ke Songennep.

Kesetiaan yang menonjol lainnya ialah ketika ia dengan rendah hati menolong R. Wijaya yang terlunta-lunta dengan menjanjikan untuk mengembalikannya sebagai raja.

  1. Cerdik

Kecerdikan Arya Wiraraja sangat nampak ketika “menyutradarai” berdirinya kerajaan Majapahit dengan tokoh sentral Raden Wijaya. Urutan sekenarionya adalah :

  1. Agar R. Wiraraja pura-pura menyerah kepada Prabu Jayakatwang.
  2. Wiraraja kemudian mengirimkan surat dengan utusan yang menyatakan bahwa R. Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada sang Prabu Jayakatwang.
  3. Agar R. Wijaya diterima sebagai pegawai istana.
  4. Selama tinggal di istana agar menyelidiki kekuatan tentara Dhaha/ Kediri.
  5. Bila kelak telah dipercaya, agar mengajukan permohonan untuk membuka hutan Tarik. Dan tenaga akan di kerahkan dari Madura. Apabila daerah Tarik telah siap, agar R. Wijaya pindah menetap disana.
  6. Selanjutnya R. Wijaya agar mencari simpati orang-orang Tumapel dan menariknya untuk menetap di tarik.
  7. Orang Madura akan dikerahkan ke Tarik sehingga perkampungan tersebut menjadi kuat (menjadi Majapahit), dan siap untuk melawan Dhaha.
  8. Aria Wiraraja menghubungi tentara Tartar/Mongol untuk bersama menggempur Jayakatwang dengan janji akan menganugerahi putra-putri keraton yang cantik.
  9. Penghancuran tentara Jajakatwang oleh tentara tarta yang juga dibantu R. Wijaya dan Wiraraja.
  10. Penyerahan tentara keraton hendaknya diterima oleh pembesar tentara Tartar tanpa senjata, karena putra-putri tersebut “Alergi” terhadap senjata.
  11. Penyerangan tentara Tartar yang tidak berdaya oleh R. Wijaya bersama Wiraraja sampai kelaut.
  12. Penobatan R. Wiraraja sebagai raja Majapahit.

(Disprbud Sumenep)

Tulisan bersambung secara berurutan:

  1. Sekitar Penetapan Hari Jadi Sumenep
  2. Sekitar Tokoh Arya Wiraraja
  3. Jabatan Arya Wiraraja Sebelum Adipati Di Sumenep
  4. Arya Wiraraja Adipati Sumenep
  5. Keteladanan Arya Wiraraja

Responses (2)

  1. Yang perlu diluruskan kembali adalah kalimat :
    Menjadi “Gubernur”Lumajang, dan dari sana membiarkan Nambi memberontak terhadap R. Wijaya.

    Kata-kata ‘membiarkan nambi memberontak terhadap R.Wijaya” padahal Nambi bukan pemberontak/ memberontak. justru dia mempertahakan lamajang (Majapahit Timur) dari serangan Majapahit (Mojokerto). baca kembali Sejarah Lamajang Karya Mansur Hidayat putra Lumajang

    1. Memang terjadi dualisme penulisan sekitar Arya Wiraraja, versi Sumenep dan Lumajang tampaknya belum searah. Saya sempat berbincang dengan Mansur Hidayat, dengan keinginan ia bisa sharing dengan sejarah Sumenep dalam “membedah” Arya Wiraraja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.