Tradisi Pir-piran, Meriahkan Lebaran Ketupat

tradisi pir-piran desa tanjung ”Kalau dulu kendaraannya bukan dokar tapi pir. Roda enam dan ditarik dua kuda. Setiap pir bisa berisi enam penumpang selain anak-anak. Makanya tradisi ini dikenal dengan sebutan pir-piran,” kata tokoh sepuh Desa Tanjung Mohammad, 50.

Namun keberadaan kendaraan pir sudah musnah sejak beberapa tahun lalu. Sekarang warga menggunakan dokar dalam tradisi pir-piran. Bahkan sebagian warga menggunakan kendaraan bermotor roda tiga jenis dorkas. Dalam pelaksanaan tradisi pir-piran kemarin, sebagian warga menggunakan dorkas. Tapi dokar masih banyak digunakan.

Sementara sebagian warga memilih nongkrong di depan rumah di pinggir jalan. Perayaan pir-piran dilengkapi dengan pengeras suara di sepanjang jalan nasional tersebut. Hampir setiap rumah membunyikan sound system di pinggir jalan. Tak sedikit warga yang berjoget menikmati perayaan tersebut.

”Saya pernah merasakan naik pir. Tapi sekarang tidak ada karena biayanya mahal. Kuda yang digunakan dua ekor, tapi dokar sekarang diganti satu kuda,” imbuh Mohammad.

[junkie-alert style=”green”] Pir-piran sebenarnya merupakan bentuk silaturahim antarwarga. Biasanya berlangsung selama dua hari, mulai siang hingga malam. Warga dua desa yang rata-rata nelayan sengaja meninggalkan aktivitasnya. Mereka memilih bersilaturahim satu sama lain. Sebab warga Desa Tanjung dan Desa Bandaran merupakan saudara. [/junkie-alert]

Rata-rata warga setempat menikah dengan warga desa tetangga. Warga Desa Tanjung banyak menikah dengan warga Desa Bandaran sehingga pada tradisi pir-piran dijadikan ajang bersilaturahmi.

Pir-piran ini setiap tahun dilakukan. Warga bersilaturahim dengan keluarganya di desa sebelah. Bahkan warga dari desa lain berkunjung ke sini, makanya ramai sekali,” ucap Misbah, 43, warga Desa Bandaran, Sampang.

Tradisi pir-piran dilakukan tiga kali dalam setahun. Yakni setelah Idul Fitri, setelah Lebaran ketupat, dan setelah Idul Adha. ”Kami sengaja tidak bekerja. Bukan hanya nelayan, semua pekerjaan lain ditinggalkan. Sebab acara ini tidak bisa ditinggalkan,” imbuhnya.

Akibat pergelaran tradisi pir-piran, sering terjadi kemacetan lalu lintas. Antrean kendaraan terjadi mulai dari Desa Sejati, Kecamatan Camplong, Sampang. Sementara di sisi timur terjadi kemacetan mulai dari Desa Kramat, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan.

”Kami siapkan brikade penanganan lalu lintas. Sebanyak 35 personel gabungan disiagakan, termasuk anggota lantas. Untuk sisi timur, kami berkoordinasi dengan Polres Pamekasan,” kata Kasatlantas Polres Sampang AKP Mala Darlius Nanda Kurniawan. (rm/*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *