Hari masih pagi, ketika Marlena tiba di sekolah. Hanya beberapa orang saja yang tampak di tempat itu. Di antaranya, Pak Tahir, tukang kebun sekolah, sedang asyik menyapu halaman tanpa mempedulikan debu-debu yang beterbangan di sekitarnya
Sastra Madura
Sastra Madura sebagai bagian dari peristiwa kebudayaan Madura yang menjadi pegangan hidup orang Madura yang banyak mengandung ajaran kebenaran, kejujuran serta religiusitas orang Madura
Marlena; Senandung Bunga Cinta
Sebagai guru muda, memang Pak Jamil berniat untuk memetik bunga-bunga di tempat dia mengajar. Dan rupanya pilihan itu jatuh pada diri Marlena yang nampak sederhana, pintar, dan lincah seperti rusa hitam
Marlena; Peristiwa Pagi Hari
Sebagai anak desa yang dilahirkan dalam kondisi alam penuh keberingasan, ia merasa berdosa, sakit, getir, dan dendam bila membiarkan begitu saja tumpah darahnya diinjak-injak oleh jaman.
Marlena; Menggapai Harapan
Marlena menemukan setitik harapan dan kebahagiaan. Kini dia punya keluarga, punya kakak, dan dia tidak perlu lagi bersusah payah bekerja jadi buruh angkuta ikan di pantai.
Identitas dan Warna Lokal Dalam Sastra Madura Modern
Perkembangan sastra Madura modern memang memprihatinkan. Bahkan, ada yang mempertanyakan keberadaan sastra Madura modern.
Marlena; Kesedihan Berantai
Bruddin tahu persis galau hati Fatimah. Bruddin menahan sekuat perasaan agar hatinya tidak terbawa arus kesedihan Fatimah.
Marlena; Keluarga Toha
Pak Toha sudah menanti kehadiran Fatimah, sambil duduk di kursi panjang. Cara ini adalah kebiasaan Pak Toha, bila ada sesuatu yang perlu dipertanyakaan atau dimusyawarahkan.
Marlena; Mimpi Buruk
Sementara Marlena sendiri merasa selalu dihantui mimpi buruk yang telah menimpanya. Walaupun dia merasa ketakutan, tetapi Marlena tetap bungkam dan tidak menceritakan mimpi itu pada ayahnya.
Marlena; Menepis Badai
Pikiran Bruddin dilanda kegalauan, semenjak dokter menyatakan bahwa Marlena positif terjangkit demam berdarah, jiwa Bruddin terasa terombang-ambing oleh sejuta kemungkinan.
