Rekonstruksi Citra Budaya Madura

Oreng jhujhur mate ngonjhur, kita robah menjadi Oreng sabbhar nompa’ jikar. Kedua ungkapan ini seolah-olah menggambarkan bahwa orang sabar atau orang jujur kondisinya kurang bersaing. Ungkapan ini perlu kita reposisi menjadi misalnya oreng sabbhar nompa’ kapal ngabbher.

Ola’ neng bato, odi’. Kalau semula ungkapan ini untuk menggambarkan sikap orang yang suka narema papasten, bisa kita beri semangat baru, bahwa perlu ada sikap ulet, tekun dan tabah untuk mempertahankan hidup.

Kelompok ketiga adalah ajaran yang kita tanamkan untuk menumbuhkan nilai-nilai baru yang positip yang sejalan dengan perkembangan zaman. Bandingkan dengan pepatah Inggris ‘time is money’ yang sesungguhnya bukan nilai budaya asli orang Inggris yang dimiliki sejak zaman dulu, melainkan ditumbuhkan sejak Inggris memasuki era industrialisasi. Agar masyarakat mau menghargai waktu, maka waktu dikaitkan dengan uang/profit.

Kita perhatikan beberapa ungkapan baru yang bisa kita tanamkan dan kembangkan, misalnya:

  • Lamon terro amodel, kodhu amodal
  • Lamon terro penter, kodhu ajar komputer
  • Ta’ atane, ta’ atana’, ini dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat mengembangkan kehidupan di bidang agriculture dan agribisnis
  • Ta’ adhagang, ta’ adhaging, dimaksudkan untuk mengembangkan semangat kewiraniagaan
  • Kembhang malate kembhang bhabur, mandhar bhadha’a paste, terro daddhia haji mabrur.

Upaya selanjutnya, membangun citra ini perlu diikuti dengan perubahan perilaku dari sebagian taretan dibhi’. Untuk itu perlu dilakukan studi, perilaku apa yang tidak disukai oleh orang lain, serta perilaku apa yang disukai. Perilaku yang tidak disukai kita kurangi atau dieliminasi, sedang yang disukai kita kembangkan dan dijadikan modal dalam membangun citra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *