Rekonstruksi Citra Budaya Madura

Nilai-nilai ini perlu dipilah menjadi beberapa kelompok. Kelompok pertama adalah nilai-nilai yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Di antaranya adalah ungkapan-ungkapan : “Manossa coma dharma”. Ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. Selain itu, “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman” Ungkapan ini menunjukkan berjalin kelindannya Budaya Madura dengan nilai-nilai agama Islam. Bahkan, penting dimasukkan Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhubha’ e budi.

Ini semua, ajaran yang bagus dalam manajemen perencanaan, yang mengisyaratkan perlunya disusun rencana yang cermat dalam setiap kegiatan, agar tidak mengalami kesulitan di kemudian hari karena salah perencanaan. Bandingkan dengan selogan: “Perencanaan memang mahal, akan tetapi akan lebih mahal lagi akibatnya apabila kita membangun tanpa rencana”. Misalnya, tercermin dalam “Asel ta’ adhina asal” yang mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri.

Pun, Lakona lakone, kennengnganna kennengnge. Bandingkan dengan the right man on the right job. Pae’ jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu’. Ini juga nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus mendalami akar permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. Kar-karkar colpe’, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap mau bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang bisa dinikmati.

Kelompok kedua adalah ajaran yang sementara ini penafsirannya cenderung mengarah kepada hal-hal yang acapkali menimbulkan ketakutan kepada pihak lain. Ajaran ini perlu kita beri redefinisi, atau reinterpretasi sebagaimana misalnya ‘Clurit Emas’-nya Zawawi Imron. Clurit jangan lagi kita lihat semata-mata sebagai alat untuk mempertahankan diri atau menebas leher orang, akan tetapi bagaimana clurit ini kita maknai sebagai alat untuk ‘menebas ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan’. Ada beberapa ungkapan yang termasuk dalam kelompok ini, misalnya: Etembhang pote mata, bhango’ pote tolang. Ini kita berikan penafsiran baru menjadi ajaran untuk meneguhkan semangat berkompetisi. Kalau tidak ingin pote mata, kita harus memperbaiki diri, meningkatkan kapabilitas, sehingga tak perlu pote tolang. Ungkapan itu perlu diubah menjadi ta’ terro pote mata, ta’ parlo pote tolang. Bandingkan dengan ‘Hidup mulya atau mati syahid’ (Isy kariman aw mutsy syahidan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *