
Komposisi para pejuang Islam melahirkan pesatnya ajaran Islam sehingga masyarakat yang ada di Sumenep 100% beragama Islam, bahkan masyarakat Sumenep beragama NU. Islam menjadi besar karena berkat para wali, ulama-kyai dan para raja-raja untuk menyebarkan ajarannya ke dalam kehidupan sosial-keagamaan di Sumenep.
Salah satu bukti perkembangan tradisi material dan non material sampai sekarang adalah pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan budaya nusantara yang memiliki ciri khas tertentu yang tidak dimiliki oleh dunia lain, masyarakat Islam di Sumenep sebagai mayoritas Islam rata-rata mengenyam dunia pendidikan pesantren. Karena pondok pesantren sebagai pendidikan tertua di Indonesia sebelum lahirnya pendidikan umum-formal yang lahir dari kolonial-belanda sehingga pendidikan keduanya melahirkan corak dan cara pandang yang berbeda pula. Sedangkan pondok pesantren di lahirkan oleh ulama dan kyai beragama Islam, sementara pendidikan umum-formal dilahirkan oleh kolonial belanda yang beragama Kristen.
Dengan demikian, post tradisionalisme Islam di Sumenep tidak selamanya bersifat tradisionalis akan tetapi sebagai sarana untuk melompat terhadap perkembangan realitas itu sendiri yakni ke dunia digital dan industri global dengan berbagai tantangannya.
Pada perkembangannya, pendidikan pondok pesantren yang berafiliasi NU semakin pesat peminatnya dengan dua jalur yakni pendidikan pesantren sebagai pemahaman keagamaan dengan Pendidikan Diniyah non Formal (non PDF) dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF) bahkan akan mendapatkan beasiswa penuh (menag 2019) bagi santri prestasi untuk melanjutkan ke pondok pesantren Ma’had Ali yang diberikan sebagian pondok pesantren di Indonesia sesuai dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) RI.
Bagi saya yayasan dan Pengasuh Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Aeng Baja Raja Bluto Sumenep mempersiapkan diri dengan segala sumber daya manusia untuk bersaing dengan lembaga-lembaga pesantren yang lain khususnya di bidang kitab-kitab kuning dan isu-isu kontemporer sesuai dengan tuntutan zamannya. Dengan demikian, post-tradisionalisme Islam di Sumenep dipertahankan pada sisi tradisi amaliahnya sebagaimana NU dan harus berperan aktif transformatif untuk mengembangkan modernitas yakni menghadapi dunia digital dan industri global khususnya bagi masyarakat Islam di Sumenep Madura Jawa Timur. (sumber: http://www.nu.or.id/)
Penulis adalah Alumni Santri At-Taufiqiyah Aeng Bajaraja Bluto Sumenep. Dan Mahasiswa Program Doktor IAIN Jember serta Dosen UNEJ dan IKIP PGRI Jember










Bisa minta silsilah ky asiruddin dan nyai halima