Pada perkembangannya, sejarah panjang suku madura untuk menggali kearifan lokalitas dibalik keunikan etnisnya sejak dahulu kala, etnis madura dijadikan mitra perhatian dunia dengan kekayaan alam mengundang gesekan dan gejolak serta intervensi asing yang berujung masuknya kolonialisme Barat. Di balik tampang sangar suku madura yang diasosiasikan dengan kekerasan, ternyata di dalamnya menyimpan rahasia mutiara kearifan-kearifan yang luar biasa genius. Kearifan lokalitas dan kebudayaan yang luhur, akan menjadi lompatan tradisi-kebudayaan masyarakat Madura yang melewati dari masa kerajaan, kolonialisme sampai kemerdekaan.
Masyarakat Madura terdiri dari kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep tentunya memiliki tradisinya masing-masing baik dari sisi proses nalar budaya-geografisnya maupun dari sisi budaya bahasa dan pemikirannya sehingga memiliki corak yang berbeda pula. Sebagian orang menyatakan bahwa pada sisi budaya bahasa halus dengan logat yang luwes diantara masyarakat madura yang lain adalah masyarakat Sumenep.
Masyarakat Sumenep inilah sebagai perantara representatif sebagai objek untuk diteliti oleh masyarakat di luar Madura sehingga setiap hari berdatangan untuk mengetahui peninggalan masa lalu seperti makam, museum, manuskrip dan letak alam geografisnya sampai hari ini tetap dilestarikan. Kabupaten Sumenep termasuk kabupaten tertua sejak kerajaan Singosari dan Majapahit yang dipimpin oleh Arya Wiraraja sebagai Adipati pertama di Sumenep dilantik pada tanggal 31 Oktober 1269 M.
Proses asimilasi budaya masyarakat di Sumenep yang bercorak agama Hindu-Jawa walaupun sebagian peninggalannya belum ditemukan atau hampir ditelan bumi, sirna ilang kertaning bumi, namun Islam masuk ke Sumenep kira-kira pada abad ke-12 melalui para pedagang dan masuknya para Sunan. Menurut sumber data dari Belanda, Islam masuk ke Sumenep di pulau Madura sejak abad 12 M, bersamaan dengan masuknya Islam di Jawa. Salah satu bukti masuknya Islam ke Sumenep adalah makam Siti Fatimah bin Maimun di Gresik, Tuban dan Kalianget Sumenep pada saat pelabuhan pesisir pantai utara ramai didatangi pedagang internasional. Kemudian dilanjutkan oleh juru dakwah Islam yang dipimpin oleh para Wali Songo penuh ikhlas sehingga perluasan ajaran agama Islam semakin massif sampai abad ke 15 M. Islam berkembang di Madura khususnya kabupaten Sumenep melalui tiga jalur yakni melalui jalur perdagangan, jalur kerajaan dan jalur juru dakwah.
Pengembangan Post-Tradisionalisme Islam
Jalur masuknya Islam ke Sumenep melalui tiga jalur perdagangan, jalur dakwah dan jalur kerajaan tersebut mengalami transformasi sosial yang signifikan di dalam perubahan cara berpikir dan berperilaku masyarakat Sumenep. Minimal ada dua tingkatan tradisi yakni tradisi berbentuk material dan tradisi berbentuk non material. Tradisi berbentuk material adalah artefak, dukomen, manuskrip dll.
Tentunya tradisi material ini, akan melahirkan tafsiran transformatif untuk menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam melalui budaya lokal baik budaya lokal melalui makam, buju’ dan museum maupun peninggalan dokumen-dokumen tertulis yang ada, merupakan perjuangan para kiai-ulama, para saudagar yang shaleh dan para raja yang masuk Islam.










Bisa minta silsilah ky asiruddin dan nyai halima