Melalui pantun, orang Madura mengajari anak-keturunannya untuk menjauhi parséko, yaitu sebuah tindak yang tidak sopan di mata orang lain (ta’ parjugha). Dalam hal ini, orang Madura telah sejak dini mengajak dan mengajarkan kepada putra-putranya apa yang disebut oleh Seelye (1993: 135) ”The ability to select descriptive knowledge significant for a common human purpose”.
Kehidupan beragama merupakan aspek kehidupan yang mendapatkan perhatian khusus orang Madura. Keyakinan terhadap agama Islam dan ketaatan menjalankan syariat agama Islam merupakan nilai-nilai kehidupan yang melekat dalam ingatan jangka panjang orang Madura. Dikatakan demikian, karena telah sejak bayi mereka dibesarkan dengan bantal sadhat apajung Alla asapo’ salawat (berbantalkan syahadat, berpayungkan perlindungan Allah dan berselimutkan shalawat). Dengan demikian menjadi tidak mengherankan bila nasehat untuk berpegang teguh kepada agama Islam dengan cara melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa, berlaku jujur, dan menunaikan rukun Islam yang kelima, pergi menjalankan ibadah Haji ke Baitullah juga terdapat dalam tradisi lisan pantun. Aspek tradisi yang mengatur kehidupan beraga memperoleh perhatian intensif dari kaum tua untuk mendapatkan perhatian yang semestinya dari generasi penerus.
Dalam hubungannya dengan penggunaan pantun sebagai alat untuk memberi nasehat, orang Madura menggunakan pantun untuk menyiapkan generasi penerus kebudayaan Madura yang paham dan mau menerapkan budaya Madura dalam kehidupan mereka. Dengan pantun, diharapkan anak-anak Madura dapat mengenali perilaku orang lain, baik yang baik atau yang buruk, memprediksi apa yang terjadi bila terdapat perilaku yang tidak baik menurut pandangan masyarakat, dan mampu memilih perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap benar dan santun di hadapan orang lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang Madura telah memfungsikan pantun sebagai piranti untuk mengenali beberapa tema nilai budaya yang disebutkan oleh Frances dan Howard Nostrand (Seelye, 1993: 134), yaitu:
- Mampu mengenali pola perilaku masyarakatnya;
- Mampu memprediksi reaksi yang mungkin terjadi terhadap situasi tertentu; dan
- Mampu memilih sikap dan perilaku yang telah dianggap umum berlaku di kalangan orang Madura.











