
Ia kemudian mengutus patih kepercayaannya, Patih Pranggulang, untuk membawa Rorogung ke hutan dan membunuhnya. Pada awalnya sang patih mematuhi. Namun, setelah beberapa kali pedangnya terpental ketika hendak memenggal kepala Rorogung, Pranggulang kemudian berpikir bahwa Sang Putri tidak bersalah. Ia kemudian berbalik melindunginya.
Membelot titah sang prabu, kotaraja terlebih Istana Medang tentu bukan lagi pilihan tepat untuk ditinggali. Pranggulang kemudian menyamar dengan melucuti seragam kebesarannya, menggantinya dengan kain poleng, tenunan khas Madura. Ia menyebut dirinya sendiri Kyai Poleng. Rorogung lalu diungsikan menggunakan perahu rakit, atau githek, yang ditendangnya hingga mampu menyeberang laut mencapai daratan di lereng gunung Gegger. Di kaki gunung inilah Rorogung melahirkan Raden Segoro dan membesarkannya hingga berusia 7 tahun.
Setelah Segoro berusia 7 tahun, Rorogung mengajaknya menuruni lereng gunung Gegger, mencari tempat baru untuk bermukim. Mereka kemudian berhenti di pesisir yang dipenuhi tumbuhan nipah. Segoro kemudian membuatkan rumah beratap daun nipah untuk ibunya. Daun-daun nipah ini pula yang kemudian membuat Segoro menyebut pesisir pantai itu dengan nama ‘nepa’ yang berarti nipah, pesisir yang sama dimana saya menyusuri hutan bakau yang menyembunyikan pohon-pohon nipahnya.
Kisah Segoro dan Rorogung tapi tidak berhenti di pesisir itu. Segoro ditakdirkan untuk bertemu dengan kakeknya, Sangyangtunggal. Ketika Segoro menebang batang-batang daun nipah untuk mebangun atap rumah ibunya, sang kakek Sangyangtunggal tengah kebingungan mempersiapkan perang melawan tentara dari Cina
Di tengah keputusasaannya, Sangyangtunggal bermimpi bahwa ia harus mencari bantuan seorang pemuda dari pulau seberang. Pemuda tersebut adalah cucunya sendiri, Raden Segoro, sedangkan pulau yang dimaksud tak lain adalah pantai Nepa di mana Segoro dan ibunya bermukim. Pulau itu juga yang disebut Madura.
Banyak kisah menceritakan mengapa disebut Madura. Satu versi mengatakan ‘madura’ berasal dari ‘madu ara-ara’ atau pojok-pojok di laut yang luas. Ada pula yang mengisahkan bahwa dalam mimpinya Sangyangtunggal mendapat wisik untuk menemui pemuda dari daerah yang disebut ‘lemah dhuro’. ‘Dhuro’ berarti antara ada dan tiada. Ini berkaitan dengan kondisi geologis tanah Pulau Madura, (Jawa: Medhuro) yakni yang lebih rendah dari permukaan air laut. Ia ada ketika air laut surut, yang membuat daratan-daratan tidak terendam air. Tapi daratan yang sama menjadi tak terlihat ketika air laut mulai pasang.
Singkat cerita, melalui utusannya, Sangyangtunggal berhasil membujuk Raden Segoro untuk melawan tentara Cina. Atas nama Medang, Segoro memenangkan peperangan itu. Atas kemenangan itu, Sangyangtunggal sangat berterima kasih, sekaligus kagum dan penasaran akan asal-usul Raden Segoro. Ketika ditanya mengenai orang tuanya, Raden Segoro meminta ijin untuk pulang ke Pantai Nepa di Madura untuk bertanya pada ibunya.
Sangyangtunggal kemudian mengutus patih-patihnya untuk mengantar Raden Segoro. Sesampainya di Nepa, Segoro berpesan pada para patih untuk menunggu dan tidak mencuri dengar. Namun, patih-patih ini membelot, dan Segoro mengetahuinya. Mereka kepergok menguping tepat setelah Rorogung, Sang Ibu, mengatakan pada Raden Segoro bahwa ia adalah anak dari siluman. Segoro sangat marah ketika para patih tidak mematuhinya. Lalu dengan kesaktiannya ia mengutuk para patih tersebut menjadi kera.
Tidak mungkin kembali ke istana dalam wujud kera, para patih yang membelot ini tetap bermukim di Pantai Nepa. Orang-orang percaya, kera-kera yang tinggal di Hutan Kera Nepa, yang sesekali juga terlihat melintas di Pantai Nepa. Umumnya mereka jinak, warga meyakini karena kera-kera ini pada awalnya adalah manusia.
Bagaimana dengan Segoro dan ibunya? Legenda mengatakan mereka kemudian berhasil moksa, untuk kemudian tinggal bersama ayah Segoro di dunia gaib. (Lontar Madura)
(dihimpun dari beberapa sumber)











