Mencari Jejak Madura di Pantai Nepa

Kera-kera di hutan Nepa

Konon, cikal bakal terbentuknya Pulau Madura tak lepas dari keberadaan Nepa, yakni sebuah wilayah di Kabupaten Sampang Madura, atau tepatnya di desa Betioh Kecamatan Bayuates Kabupaten Sampang. Nama “Nepa” sendiri terkait erat dengan sebuah “hutan” yang kemudian dikenal hutan kera nepa, yang saat ini dikenal sebagai destinasi wisata alam berlokasi di wilayah pesisir utara, Sampang Madura.

Kata nepa sendiri cukup unik dan aneh. Namun menurut Torul dalam tulisannya di Kompasiana, salah seorang penduduk asli Sampang menyebut bahwa kata nepa mungkin mengingatkan pada jejak bahasa Austronesia yang dipercaya sebagai moyang Bahasa Madura dan Melayu, yang kini disebut sebagai bahasa Indonesia. Bunyi vokal tinggi [i] pada ‘nipa’ berganti menjadi vokal rendah [è] pada ‘nèpa’, (kemudian berbunyi “nepah” (h), diksi ucapan orang Madura (barat) sebagaimana dilafalkan dalam bahasa Madura. Tak hanya perkara bahasa, nepa atau nepah sejatinya juga meninggalkan cerita tentang tumbuhan nipah dan orang pertama yang bermukim di pulau Madura.

Nipah adalah sejenis palem (palma) yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut dekat tepi laut. Tumbuhan ini juga dikenal dengan banyak nama lain seperti daon, daonan (Sd., Bms.), buyuk (Jw., Bali), bhunyok (Md.), bobo (Menado, Ternate, Tidore), boboro (Halmahera), palean, palenei, pelene, pulene, puleanu, pulenu, puleno, pureno, parinan, parenga (Seram, Ambon dan sekitarnya).

Nipah disebut juga sebagai Nypa fruticans merupakan tumbuhan dengan jenis palem (palma) yang tumbuh di lingkungan hutan bakau atau daerah pasang-surut di dekat tepi laut. Tumbuhan nipah mempunyai batang terendam di bawah lapisan lumpur yang menjalar di bawah tanah dengan tebal batang kira-kira 60 cm.

Di beberapa negara lain, tumbuhan ini dikenal dengan nama (dalam bahasa Inggris) Attap Palm (Singapura), Nipa Palm atau losa (Filipina), atau umumnya disebut Nypa palm. Nama ilmiahnya adalah Nypa fruticans Wurmb, dan diketahui sebagai satu-satunya anggota marga Nypa. Tumbuhan ini merupakan satu-satunya jenis palma dari wilayah mangrove. Fosil serbuk sari palma ini diketahui berasal dari sekitar 70 juta tahun yang silam.

Daunnya tumbuhan nipah yang tumbuh dapat mencapai 7 meter dan tangkai bunganya dapat mencapai 1 meter. Kulit tanaman nipah ini memiliki tekstur yang sangat keras berwarna hijau dan akan berubah menjadi warna coklat ketika kondisi tanaman nipah tersebut sudah tua. Namun, bagian dalam dari akan terlihat lebih lunak seperti gabus.[2] Tumbuhan nipah biasanya tumbuh subur di bagian belakang hutan bakau. Tumbuhan ini paling banyak ditemukan di bagian tepi sungai atau laut yang memasok lumpur ke pesisir. Namun, beberapa penelitian menyebutkan bahwa tumbuhan ini lebih baik di daerah rawa yang memiliki tanah yang kaya akan bahan organik.

Nipah ini umum ditemukan di sepanjang garis pesisir samudera hindia hingga samudera pasifik. Khususnya di antara Bangladesh hingga pulau-pulau di Pasifik. Tanaman ini cukup aplikatif baik di indonesia sendiri maupun luar negeri. Seperti jenis palem umumnya yang memiliki berbagai kegunaan, nipah berpotensi sebagai bahan pangan yang cukup banyak mengandung karbohidrat, lemak, protein dan vitamin. Selain itu, nipah juga memiliki beragam potensi untuk kebutuhan sehari-hari, seperti bahan bakar, bahan atap rumah, bahan kerajinan, dan produk lainnya, namun potensinya sampai saat ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal.

Daun nipah yang masih muda banyak dimanfaatkan secara tradisional untuk kertas rokok. Tangkai daun dan pelepah nipah dapat digunakan sebagai bahan kayu bakar yang baik. Pelepah daun nipah juga mengandung selulosa yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pulp (bubur kertas). Lidinya dapat digunakan untuk sapu, bahan anyam-anyaman dan tali. (lihat Wikipedia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.