Marlena; Menggapai Harapan

Bu Rasmi yang dilirik langsung tanggap dan segera berucap. “Aku tidak setuju! Kenapa kita harus ikut tanggung jawab,” ujar Bu Rasmi sambil bangkit dari tempat duduknya.

“Masalahnya bukan setuju atau tidak, tapi kita harus melihat bahwa anak seperti Marlena itu memang patut kita perhatikan,” tandas Pak Toha.

“Benar Bu. Marlena itu yatim piatu, sudah menjadi kewajiban kita untuk membantunya,” ucap Fajar.

“Apa katamu? Kewajiban kita? Mengapa harus kita? Apakah tidak ada orang lain, selain kita,” ungkap Bu Rasmi sambil terus mondar-mandir, pertanda hatinya kurang berkenan.

“Coba duduk dulu bu, mari kita musyawarahkan dengan pikiran dan hati terbuka, tanpa dibebani praduga yang kurang sehat,” ajak Pak Toha dengan penuh pengertian.

Bu Rasmi patuh dengan ucapan suaminya. Kembali dia duduk di tempat semula. “Lalu, apa  lagi yang akan dibahas ?” tanya Bu Rasmi jengkel.

“Bu….,sebagai umat beragama, kita wajib untuk saling menolong,” ujar Pak Toha lembut. “Apalagi dia itu  anak nelayan miskin, sudah tak punya ayah ibu. Dia masih terlalu muda untuk memikul semua beban itu bu,” lanjut Pak Toha.

“Menolong orang itu gampang. Tapi suatu saat nanti, bila mereka menampakkan belangnya, maka kita juga akan menanggung akibatnya.” kilah istrinya itu.

“Bu, mestinya kita bangga punya anak seperti Fatimah dan Fajar, yang mempunyai rasa empati dan kesetiakawanan yang tinggi. Mereka begitu peduli dengan keadaan sekitarnya. Dia tidak sombong, suka membantu sesama, bahkan rela berkorban untuk orang lain. Itulah anak kita bu, anak yang lahir dari rahim Bu Rasmi.” rayu Pak Toha.

 Bu Rasmi paling tidak tahan mendengar rayuan Pak Toha. Maka, walaupun wajahnya masih cemberut, tetapi dalam hatinya dia mulai mengakui kebenaran ucapan anak dan suaminya.

“Kami bangga pada ayah dan ibu, yang telah menanamkan benih-benih kasih sayang yang murni, hingga kami mampu berfikir jernih setiap kali melangkah. Apalagi bila kita pandang dari sudut moral, sosial dan agama. Apa yang dilakukan Fatimah itu merupakan perbuatan yang mulia,” timpal Fajar.

Bu Rasmi masih diam. Tapi dari sudut matanya tampak mutiara bening yang menggelinding satu-satu dari pipinya yang mulai keriput.

“Maafkan kami bu, mungkin kata-kata kami atau perilaku kami tidak berkenan dihati ibu,” kata Fatimah yang tanggap pada perubahan roman muka ibunya.

“Tidak nak, kalian benar. Aku selalu menilai bahwa kalian masih kanak-kanak. Ibu lupa bahwa kalian telah dewasa dan mampu berfikir dengan bijaksana. Untuk itu, ibu tidak keberatan, kalian memboyong anak nelayan itu bersatu dengan kita disini,” ucap bu rasmi.

Fatimah segera menghambur kepelukan ibunya, disusul oleh fajar. Sementara Pak Toha yang melihat adegan itu hanya tersenyum-senyum. Mereka semua bahagia menyambut keputusan yang dibuat Bu Rasmi.

“Kebetulan besok hari minggu. Kalian bisa menjemput Marlena ke kampung Lebak,”  saran Bu Rasmi pada  anak-anaknya.

Kesempatan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Dengan membawa pakaian seadanya Marlena berangkat mengikuti Fatimah. Para tetangga yang setia menemani Marlena, mengantarkan mereka dengan pandangan penuh haru. Marlena bersalaman dan berpamitan pada mereka semua. Dengan langkah pasti, ditinggalkannya rumah kumuh yang penuh kenangan itu. Sekali lagi Marlena menoleh ke arah  rumahnya, sampai tidak nampak dan hilang.

Sepanjang perjalanan Marlena hanya membisu. Biarpun Fajar dan Fatimah memancing dengan berbagai pertanyaan, tetapi Marlena hanya menjawab dengan jawaban-jawaban singkat. Karena dalam dada Marlena berkecambuk sejuta rasa yang tak mampu dia terjemahkan maknanya.

“Nah, sudah sampai,” kata Fajar sambil membukakan pintu mobil ayahnya itu untuk Marlena dan Fatimah.

“Ini rumah kak Timah,” kata Fatimah sambil membimbing Marlena masuk.

Marlena memutar seluruh pandangannya keseluruh ruangan. Rumah bercat hijau ini benar-benar istana yang baru dilihatnya. Rumah Haji Mastur, mantan mertuanya yang terkenal sebagai orang terkaya di kampungnya, tidak ada separuhnya  dibanding rumah ini.

Tanpa sadar, Marlena telah masuk ke ruang keluarga, yang penuh perabotan modern. “Ini ayah dan ibu kak Timah. Dan mulai saat ini Lena boleh memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu,” kata Fatimah, memperkenalkan Marlena kepada ayah dan ibunya. “dan itu, yang tua, Bik Sira. Lena boleh minta tolong pada Bik Sira bila ada keperluan,” tambahnya.

Dengan takzim Marlena mencium tangan mereka satu persatu. Bu Rasmi tak kuat menahan haru. Dipeluknya gadis kecil kumuh itu. “Selamat datang anakku,” ucap Bu Rasmi ramah.

“Mari, sekarang kutunjukan kamarmu,” kata Fatimah terus membimbing Marlena menuju sebuah kamar yang indah. Di kamar itu ada sebuah dipan yang diberi kasur dengan seprei yang brsih. Dipojok sana ada sebuah meja belajar, dan diatasnya ada sebuah foto. Didekatinya meja itu, dan diambilnya bingkai foto di atasnya. Ternyata potret dirinya bersama ayahnya.

“Potret itu kuambil ketika penelitian tempo hari,” jelas Fatimah. “Bagaimana apakah kau suka kamar ini?” tanya Fatimah.

“Kak Timah, terima kasih!” seru Marlena sambil menghambur memeluk tubuh Fatimah.

Diantara duka yang melingkupinya, Marlena menemukan setitik harapan dan kebahagiaan. Kini dia punya keluarga, punya kakak, dan dia tidak perlu lagi bersusah payah bekerja jadi buruh angkuta ikan di pantai. (*)

Bersambung episode delapan : Marlena; Peristiwa Pagi Hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.