
Demikian juga anak-anak sekolah mulai berbondong-bondong menuju sekolah masing-masing dalam suasana cerah dan ceria sebagaimana cerahnya pagi hari untuk masa depan mereka, setelah semalaman menumbuk harapan lewat mimpi-mimpi yang mereka ciptakan. Sehingga tidaklah heran, bila di desa tempat Marlena berjuang mengingatkan kembali masa kanak-kanak Marlena ketika masih terkungkung oleh suatu keadaan yang mengenaskan. Simbol-simbol ini tiba-tiba tercipta bagaikan alir sungai yang membentang di antara desa ini, mengalirkan airnya dari hulu hingga muara lautan lepas. “Perjalanan panjang ini tidak akan berakhir, selama manusia menyadari dan berfikir bahwa sebenarnya manusia diciptakan semata-mata karena Allah,” batin Marlena ketika memperhatikan anak-anak SD bersemangat memacu langkahnya menuntut masa depan yang gemilang.
Fajar, yang kini duduk di bangku kelas II SD itu telah membentuk dirinya sebagai anak yang diwarisi oleh ayah dan ibunya, selaras pusaka harapan yang tercipta dari dua buah hati yang tulus sebagaimana ketulusan kiprahnya mengarungi samodra kehidupan. “Suatu mukjizat yang kadang tidak terfikirkan oleh manusia,” batin Marlena penuh haru. “Yah, nasib manusia seperti laut, ganas gelombang tidak selamanya membawa celaka,” tambah Marlena dalam hati.
Lalu ia seakan dibangkitkan oleh kenyataan nasib hidupnya selama ini. Ia tak mampu membayangkan, bila akhirnya kini terdampar di suatu tempat yang belum pernah tergerak dalam mimpi-mimpinya. Kalaupun ia bermimpi, gerakan itu selalu diarahkan bagaimana sewaktu ia masih duduk di bangku SD dulu dapat menikmati suasana kota sebagaimana yang kerap ia tonton melalui layar televisi tetangganya. Lebih dari itu tidak. Karena ia sedikitpun tidak punya keyakinan bahwa dirinya akan mampu meneruskan sekolah sebagaimana yang ia dengar dari cerita Kamil.
“Kamil… Kamil”. Mengingat Kamil, nafas Marlena terasa sesak. Luka lama terasa tergores kembali, seakan menguakkan luka yang kini telah tertutup rapat, dan di dadanya seakan-akan dirembesi oleh darah. Kejam,” runtuk hati Marlena.
Akhirnya Marlena tidak dapat berbuat banyak karena perjalanan nasibnya telah berlalu sedemikian rupa. Nasib anak seorang nelayan miskin, yang tidak pernah mengenal apa arti hidup yang sebenarnya. Yang ia kenal hanyalah semangat dan kemauan. Begitulah pergulatan hati Marlena pagi ini. Antara mimpi dan kenyataan bergulat saling berpacu untuk merobohkan tebing-tebing hatinya. Dan akhirnya Marlena harus roboh.
Taufik yang lagi asyik menyiangai kebun di halaman, tiba-tiba dikejutkan oleh suara benda berat jatuh di dalam rumah. Ia pun segera mencari arah suara itu. “Len, apa yang terjadi?” pekik Taufik sesaat melihat istrinya tergeletak pingsan di lantai. Dengan tergopoh-gopoh ia mengangkat istrinya ke pembaringan. Karena Marlena tidak juga siuman, Taufik segera menghubungi tetangga terdekat untuk memanggil dokter di puskesmas.
Suatu peristiwa yang tak pernah diduga, bila tiba-tiba Marlena mengalami keadaan seperti itu. Sebab, sebelumnya tak ada tanda-tanda Marlena mengidap suatu penyakit. Bahkan kondisi tubuhnya nampak sehat dan bugar, dan telah dibuktikan oleh ibu Ketua PKK Desa itu saat menyusuri kampung-kampung untuk memberikan penyuluhan kepada warga. Namun tidak pernah ada keluhan yang terlontar dari mulutnya. Sebaliknya ia malah wanti-wanti kepada warganya untuk menjaga kebersihan lingkungan demi kesehatan bersama. Tapi dengan kejadian pagi itu, warga sekitar merasa prihatin dan curiga. Maka timbullah praduga jelek dari perbincangan orang tertentu.
“Jangan-jangan bu lurah kena tenung.” kata seseorang.
“Kena tenung bagaimana? Dan siapa yang mau berbuat jahat kepada beliau?” tanya yang lain.
“Bisa saja kan. Pak Lurah kan berhasil membangun desa ini, lalu mungkin ada orang yang tak suka atas keberhasilannya.”
“Lalu siapa yang akan berbuat?”
Orang yang menyatakan itu, lalu membisikkan sesuatu ke telinga lawan bicaranya.
“Ah, tidak mungkin.”
“Lho, mungkin saja kan. Sewaktu dia menjabat lurah dulu, dia kan tidak disukai warga karena perbuatan yang sewenang-wenang.”
“Iya, tapi sejauh itu, dia baik-baik saja.”
“Itu hanya baik luar saja, siapa tahu hatinya,” tegas orang pertama.
Akhirnya hasil pembicaraan itu mengembang kepada yang lain. Kemudian timbullah perbincangan luas dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah, dari warung ke warung, bahkan di tengah sawahpun jadi perbincangan hangat. Mendengar isu itu, Taufik menjadi sibuk. Ia seakan dihadapkan pada permasalahan baru yang sebenarnya permasalahan sakit Marlena belum selesai. Namun Taufik tidak mampu berbuat banyak untuk mengantisipasi isu tersebut. Ia segera minta bantuan kepada para ulama dan tokoh masyarakat setempat agar segera meredam isu-isu itu.
“Itu tidak benar Kiai, istri saya sakit bukan karena santet, tenung, dan semacamnya. Ia cuma terlalu lelah dan banyak berfikir, sehingga keseimbangan tubuhnya tidak mampu menahan beban pikirannya,” jelas Taufik, agar disampaikan kepada masyarakat melalui pengajian atau pertemuan lainnya.
“Istri bapak harus banyak istirahat, dan ia cuma butuh ketenangan,” Taufik menirukan pesan dokter.
Melalui fatwa para ulama dan tokoh masyarakat itulah, masyarakat mulai sadar, ternyata selama ini mereka terpengaruh oleh keadaan saat mereka di bawah pimpinan lurah sebelumnya. Memang sebagaimana penuturan mereka bahwa sikap dan cara kerja lurah sebelum Taufik, banyak menimbulkan kesan jelek di mata masyarakat. Dia banyak menurunkan peraturan-peraturan desa yang tidak selaras dengan kondisi wilayah, sehingga warga banyak yang menjadi korban atas perbuatannya itu, yang sebenarnya didasari oleh kepentingan pribadi.
“Benar, lurah itu banyak menyalah gunakan jabatannya,” kata salah seorang warga yang diwawancarai wartawan. “Aturan yang dibuat, hanya untuk kepentingan pribadi. Pokoknya, setiap pada pengurusan desa kelurahan akan dipersulit bila tanpa disodori amplop. Belum lagi penarikan-penarikan dana lainnya yang tidak sesuai dengan kemampuan rakyat.
Tak heran, bila dugaan masyarakat itu diarahkan kepada mantan lurahnya, karena bila dibandingkan, jauh berbeda dengan Lurah Taufik. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Lurah Taufik, yang telah mendukung kemakmuran desa ini,” komentar salah seorang warga atas keberhasilan Taufik membangun desanya.
Isu pertenungan pun akhirnya hilang. Taufik dan Marlena merasa lega dan aman. Setelah kesehatannya pulih, Marlena kembali menjalankan tugasnya sebagai ketua PKK kelurahan. Meskipun kadang timbul hal-hal yang menyangkut dirinya dengan situasi yang menggemparkan beberapa waktu lalu.
“Di sini. Di Madura dan di mana-mana sama saja,” batin Marlena geli dan haru.
Malam masih belum larut. Marlena dan Taufik menikmati malam itu penuh suka cita. Seakan malam ini merupakan malam yang penuh romantika dalam kehidupan mereka. Ia kini merasakan sedikit lega, setelah seharian hingga petang tadi beberapa tamu telah meninggalkan ruang tamu lurah itu. Demikian juga Fajar dan Fatimah, telah tidur dengan pulas bersama sejuta mimpi-mimpinya. Mereka seakan mencipta ikrar dan janji untuk meneruskan perjuangan ayah dan ibunya kelak. Mereka yakin, semangat yang dipancarkan oleh orang tuanya kepada anak itu, akan menyusup dan berkobar ke dalam dirinya.
Marlena mendekati kedua anaknya yang lelap tidur. Lalu duduk di pinggir ranjang, seraya mengusap kedua kening yang masih belum mengenal arti hidup yang sebenarnya. “Masih terlalu panjang perjalanan kalian nak,” kata hati Marlena haru menatap wajah-wajah lugu anaknya.
Malam makin larut. Taufik dan Marlena bergegas menuju pembaringan. Mereka seakan ingin menikmati tidur itu dengan kenikmatan yang sebenarnya. Menikmati pengalaman hidup diri mereka. Menikmati masa depan anaknya. Menikmati alam beserta warganya terjalin satu kesatuan yang penuh harum aroma bunga kehidupan. Hingga tanpa terasa, rasa lelah itu telah mengantarkan mereka ke suatu tempat penuh aneka bunga. Bunga-bunga harapan bangsa.
Malam telah luruh. Kokok ayam mulai bersautan dari sudut desa. Sebentar lagi subuh akan tiba. Taufik dan Marlena segera mempersiapkan diri untuk menjalankan kewajibannya sebagai ummat Islam. Lalu mereka berdo’a: “Ya, Allah, tidak ada yang mudah, kecuali sesuatu yang Engkau jadikan mudah. Engkaulah yang menjadikan susah menjadi mudah. Aamiin.
Binar pagi timbul kembali. Suasana kembali ringan dan cerah. Saat itu pula telah tercatat “Perjalanan Panjang Wanita Madura”.
TAMAT












