Tari Dupplang, Gambaran Prosesi Kehidupan Manusia

Setiba di rumah mertua, penari sambil duduk jongkok memberikan makanan tersebut, kemudian bersama-sama memakannya. Setelah makan gaddung tersebut, mabuk. Puncak dari tarian ini adalah ketika penari dalam keadaan mabuk. Sebagai penutup penari mengidungkan kalimat “Apa tambana Dupplang, tambana Dupplang ayak sapolo”  secara terus menerus diiringi gending ayak Sapolo adalah sebuah nama tembang.

Adapun musik yang mengiringi tarian ini senantiasa mengikuti gerakan-gerakan penari. Disamping mempertontonkan kepiawaian dalam menari. Penari juga menunjukkan kebolehannya dalam menembang. Karena dalam setiap gerakan tari senantiasa diiringi alunan kidung yang dibawakan oleh penari.

Tarian Dupplang ini adalah sebuah tarian yang cukup rumit dan membutuhkan stamina tinggi. Karena banyak sekali perpindahan gerakan dari posisi jongkok ke posisi berdiri, kemudian ditambah lagi dengan gerakan hilir mudik dari rumah ke ladang, kembali ke rumah, pergi ke laut, kembali ke rumah, proses memasak, menghantarkan ke rumah mertua dan yang paling akhir adalah ketika penari  dalam keadaan mabuk setelah makan gaddung.

Karena tingkat kesulitan yang sangat tinggi tersebut, banyak penari yang segan untuk mempelajarinya. Sehingga tidaklah mengherankan, apabila tarian Dupplang tidak di kenal dan tidak diingat lagi oleh seniman-seniman tari generasi berikutnya. Dengan demikian tari Duplang ini benar-benar punah.

Nyi Surasmi (kanan) bersama penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *