Tari Dupplang, Gambaran Prosesi Kehidupan Manusia

Prosesi Pertunjukan

 Tarian ini sering dipentaskan untuk menyambut tamu di istana, memeriahkan acara perkawinan ataupun selamatan desa/laut. Adapun tempat pementasan tidak memerlukan sebuah panggung, namun memerlukan halaman yang luas. Biasanya pementasan dilaksanakan pada pagi, siang ataupun sore hari.

Prosesi tarian ini diawali oleh alunan gendingan, si penari memasuki arena pentas, berputar kemudian jongkok sembari menembangkan kidung  Candaga. Setiap pergantian gerakan berdiri ke duduk jongkok, sembari menembangkan sebuah kalimat “Bapa’e Dupplang, e kencono, se namen  gaddung”. Selesai pengucapan kidung tersebut, penari mulai menanam gaddung. Setelah menanam, penari kembali pulang ke rumah.

Selama dalam prosesi tersebut, penari selalu mengalunkan kidung yang sama, yaitu “Bapa’e Dupplang”, begitu pula saat penari kembali ke ladang untuk melihat tanamannya, dalam posisi jongkok penari menembang “Bapa’e Dupplang se neleggi Gaddung”. Penari melihat tanamannya yang mulai tumbuh dan membuatkan para-para tempat menjalarnya tanaman tersebut. Setelah itu penari kembali pulang ke rumah.

Adegan berikutnya adalah penari kembali ke ladang untuk menggali tanamannya. Sambil berjalan mundur dalam posisi jongkok, selendang diumpamakan linggis. Setelah penggalian selesai, gaddung dimasukkan ke dalam keranjang setelah itu di bawa pulang dengan cara di taruh di atas kepala. Sampai di rumah gaddung tersebut diletakkan sambil mengidungkan “Bapa’e Dupplang e kencono se andi’ gaddung”.

Setelah itu penari mengupas, mengiris-iris kemudian dimasukkan kembali ke dalam keranjang  dan di bawa ke laut untuk di cuci. Sesampai di laut, gaddung tersebut diinjak-injak. Setelah selesai penari kembali pulang ke rumah untuk menjemurnya. Selendang dipergunakan sebagai pengganti tikar. Dalam penjemuran ini penari berkali-kali membolak-balikkan gaddung. Setelah dianggap agak kering, gaddung itu dimasukkan kembali ke keranjang untuk di bawa masuk ke rumah. Dalam adegan ini penari mengidungkan “Bapa’e Dupplang nolonga Gaddung”.

Sesampai di rumah gaddung tersebut dimasukkan ke dalam panci untuk di masak. Sambil menunggu, penari mengambil sebutir kelapa, membuka batok kelapa dengan parang, mengupas kelapa kemudian memarutnya. Setelah gaddung masak, diangkat ke luar dari panci, diletakkan ke dalam piring kemudian ditaburi kelapa parut. Setelah selesai, penari berangkat ke rumah mertua untuk menghantarkan makanan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *