Diantara sekian banyak tari tradisional Sumenep yang telah punah, tari Dupplang merupakan salah satu tari tradisional yang sangat spesifik, unik dan langka. Keunikan dari tari ini disebabkan tarian ini merupakan suatu jalinan kisah, sebuah penggambaran prosesi yang utuh dari kehidupan seorang wanita desa. Kerja keras wanita-wanita petani yang selama ini terlupakan, dijalin dan dirangkai dalam gerakan-gerakan yang sangat indah, lemah lembut, lemah gemulai sekaligus menggemaskan.
Tarian ini diciptakan oleh seorang penari keraton bernama Nyi Raisa. Generasi terakhir yang mampu menguasai tarian ini adalah Nyi Suratmi. Dan tarian ini jarang dipentaskan setelah adanya pergantian sistem pemerintahan, peralihan dari sistem Raja ke Bupati. Sejak saat itu, otomatis tarian ini jarang sekali dipentaskan.
Jalinan Cerita Utuh Kerja Keras Wanita Petani
Tari Dupplang adalah penggambaran prosesi jalinan cerita tentang petani wanita yang menanam sejenis tumbuhan ubi-ubian. Berbeda dengan ubi-ubian lainnya, Gaddung jenis ubi ini akan menimbulkan ekses memabukkan apabila dalam proses memasak tidak benar. Jenis ubi ini jarang di konsumsi oleh masyarakat, karena sangat sulit dalam proses memasak-nya. Biasanya Gaddung ini di konsumsi apabila dalam keadaan yang sangat mendesak dan darurat, misal adanya kemarau yang sangat panjang dan sulit untuk mendapatkan bahan makanan.
Tarian Dupplang ini adalah penggambaran utuh dari proses awal penanaman, pemupukan, pemanenan, penjemuran, pengolahan sampai tahap memasak. Setelah proses itu selesai, si penari menghantarkan makanan tersebut ke rumah mertua, sebagai tanda bakti seorang anak. Setelah tiba di rumah mertua, bersama-sama mereka memakannya. Dan tarian ini berakhir, ketika penari setelah mengkonsumsi gaddung tersebut mabuk.
Tarian Duplang ini dibawakan oleh 1 penari wanita, adapun pakaian serta aksesoris yang digunakan penari tergantung pada permintaan yang mengadakan pertunjukan. Di lingkungan keraton, pakaian yang dikenakan biasanya pakaian adat Lega dan memakai sanggul. Sedangkan untuk kalangan masyarakat biasa, digunakan kain panjang dan kebaya. Adapun durasi pertunjukan memakan waktu sekitar 1 s/d 2 jam.











