Dalarn cerit rakyat inilah khayalan orang Madura memperoleh kebebasan yang mutlak, karena di situ ditemukan hal-hal yang tidak masuk akal, yang tidak mungkin ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contohnya, cerita tentang bidadari turun dari langit yang selendangnya dicuri oleh seorang perjaka; atau perang tanding dua pendekar yang dilakukan di udara. Untuk memahami kebudayaan masyarakat Madura, fenomena tersebut tidak kemudian dapat dinilal apakah cerita yang disampaikan nyata atau tidak, tetipi harus dilihat bagaimana cerita rakyat itu bekerja dalam masyarakat Madura.
Masyarakat Madura tidak mempermasalahkan apakah suatu cerita itu nyata atau. tidak. la semata-mata dijadikan sarana komunikasi, pengembangan pengetahuan, dan pembentukan perilaku. Oleh karena itu, penggambaran nilai, semangat, prinsipp rinsip melalut sesuatu yang abstrak seperti benda-benda atau makhluk-makhluk di sekitar mereka sebagai metafora adalah merupakan sebuah seni retorika supaya sebuah pesan dapat dipahami dan diterima. Penggambaran tentang perilaku dan sifat-sifat, seperti kejujuran, kesetiakawanan, cerdas, cantik, anggun, yang disamakan dengan fenomena alam sehari-hari di sekitar mereka merupakan cara yang cerdas dari masyarakat Madura untuk mewariskan nilai-nilai budaya mereka yang tinggi.
Pewarisan nilai dan konsepsi rnasyarákat Madura melalui cerita yang sudah sedemikian mapan telah menjadi budaya turun temurun. Cerita-cerita ini tidak saja merefleksikan nilal-nilat sosial budaya masyarakat dahulu, tetapi juga mengantarkan nilai-nilai itu kepada masyarakat sekarang. Hal itu disebabkan cerita pada satu generasi diwariskan dari cerita masyarakat sebelumnya (Nurgiantoro, 2005: 117).
Dalarn konteks lokalitas Madura, cerita rakyat Madura mempunyai kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif, rnisalnya sebagal alat pendidikan, penglipur lara, prestise sosial dan proyeksi keinginan terpendam. Para pendahulu masyarakat Madura di mana pun selalu rnenanamkan nilai-nilai dan konsepsi-konsepsi yang kemudian diyakini sebagai blueprint yang menjadi penuntun dalam pérjalanan hidupnya. Nilai dan konsepsi itu menjadi pedoman dalam tingkah laku.
Melalu tulisan ini, penulis berusaha mengungkap blue prin t tersebut. Pandangan umum masyarakat ketika menilai masyarakat Madura, didasari pada pengamatan yang bersifat historis, sosiologis maupun antropologis. ini bukanlah suatu hal yang aneh karena memang secara umum, dengan tiga hal itulah sebuah masyarakat dapat didekati dan dikonstruksi jati dirinya. Namun kita tidak bisa menafikan, bahwa terkadang, ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi objektivitas dan hasil konstruksi tersebut seperti adanya stereotipe ataupun bias dan basil pengamatan yang terbatas yang dilakukan para konstruktor.
Simpulan-simpulan yang menyebutkan bahwa prinsipp risnsip hidup orang Madura adalah keras dan tangguh, relijiusitas, mengagungkan paternalistik, menganggap sapi sebagai aset paling berharga di atas wanitanya, kesetiakawanan kesukuan yang kental, penempatan harga diri di atas rnusyawarah, dan lain sebagainya, adalah prinsip-prinsip yang didapat dan hasil konstruksi ini. Prinsip-prinsip ini tidaklah salah karena memang semua yang disebutkan di atas dapat dibuktikan keberadaannya dalam masyarakat Madura. Hanya saja, dalam konteks-konteks tertentu (yang bisa saja disebabkan karena faktor stereotipe), prinsip-prinsip lain yang lebih humanis terkadang tidak dinampakkan dan dianggap sebagai bukan bagian dan masyarakat Madura.
______
Tulisan bersambung
- Orang Madura, Siapa Mereka?
- Sastra Madura Sebagai Cagar Ilmu Pengetahuan
- Posisi Cerita Rakyat Masyarakat Madura
______
Tulisan ini disalin dari buku: “Orèng Madhurâ”, Keyakinan, Prinsip Hiudp, dan Potensi Tersembunyinya, Penulis Igbal Nurul Azhar, Penerbit LkiS, 2017, pada halaman 1-8












