Banyak nilai dan spirit etika budaya yang perlu revitalisasi dalam kehidupan ini. “Misalnya koko ban sokkla (kukuh pendirian/keyakinan dan berkeagamaan), saduhuna
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
Macapat; Budaya Madura Mulai Dilupakan Masyarakatnya
Macapat atau ada yang menyebutnya dengan mamaca, merupakan tradisi lisan Madura yang bisa dikategorikan berbentuk kesenian yang dipertunjukkan kepada publik
Rekonstruksi Citra Budaya Madura
“Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman”. Ungkapan ini menunjukkan berjalin kelindannya Budaya Madura dengan nilai-nilai agama Islam.
Raden Musaid: Sang Sastrawan Besar dari Madura
Raden Musaid, Sastrawan Legendaris yang menulis Babad Sumenep. Awalnya penulisan tersebut dimaksudkan sebagai upaya pelurusan sejarah terutama sejarah Islam
Festival Cak Durasim III: Diskusi Sastra Etnik di Jawa Pos,
Masih berkaitan dengan Festival Cak Durasim III, Lembaga Kajian Budaya Jawa Pos dan Taman Budaya Jawa Timur di Graha Pena Building, membedah kondisi sastra
Selayang Pandang Sejarah Sumenep
Sejarah Sumenep jaman dahulu diperintah oleh seorang Raja. Ada 35 Raja yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Dan sekarang ini telah dipimpin seorang Bupati.
Labang Mesem: Pintu Gerbang Kraton Sumenep
Labang Mesem merupakan sebutan untuk gerbang keraton yang letaknya tidak jauh dari Taman Sare. Dalam Bahasa Indonesia, Labang berarti pintu, dan Mesem berarti senyum
Hidup Seimbang Ala Orang Madura
Orang Madura dituntut peka terhadap orang di sekitarnya, lebih-lebih kepada yang tidak mampu. Falsafah mon sogi pasogha’ (kalau kaya harus menjadi penyangga)
Tatanan Nilai Idealistik Orang Madura
sosok budaya manusia Madura, yang idealistik yang masih relevan untuk dijadikan bekal membangun masa depan yang lebih baik. Dalam buku “Mempertimbangkan Tradisi”, WS. Rendra menyatakan
