Sekilas Tradisi Toktok di Pulau Masalembu Rusdi Umar Meski terdapat banyak sisi positif dari budaya…
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
Tradisi Toktok Sebagai Ajang Silaturrahmi Warga
Silaturrahmi dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Ada kalanya, hubungan sosial dilakukan dalam jumlah yang tidak banyak, ada kalanya juga dilakukan dengan jumlah yang sangat banyak, bahkan tanpa adanya pemberitahuan maupun undangan. Dalam ajang tradisi Toktok tidak perlu adanya undangan.
Toktok, Aduan Sapi Ala Masalembu
Salah satu tradisi masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Toktok. Tradisi ini adalah kegemaran masyarakat dalam acara aduan sapi.. Berbeda dengan kerapan sapi, Toktok. adalah kompetisi saling seruduk antara dua sapi yang saling berhadapan
Putri Nelayan Masalembu, Pembawa Tumpeng Rokat
Mereka bersama-sama menuju pantai tempat doa akan digelar. Dengan berbaris dua-dua, iring-iringan putri nelayan itu terlihat panjang. Dengan dikawal mobil patroli Polsek Masalembu, gadis-gadis pembawa tumpeng itu berjalan pelan
Rokat, Melestarikan Budaya Masyarakat Masalembu
upaya melestarikan adat rokat ini adalah dengan komitmen, niatan yang tulus, serta rencana pelaksanaan yang lebih matang. Memberikan informasi ke khalayak ramai dengan berbagai cara juga termasuk bagian dari upaya melestarikan upacara ini.
Rokat, Sebagai Ungkapan Rasa Syukur Kepada Tuhan
Rokat adalah sebagai wadah untuk saling menolong. Bekerja sama dan sama-sama bekerja adalah sebuah kebiasaan yang harus tetap lestari. Tolong Menolong dan gotong royong merupakan dasar dalam kearifan bangsa.
Rokat di Masalembu Dipersembahkan untuk Raja Ikan.
Petik Laut atau Rokat Tasè’ (Madura), merupakan salah satu tradisi masyarakat Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura masih dipertahakan oleh masyarakat setempat. Tradisi ini warga Masalembu masih tetap terpelihara di hati masyarakat. Hal ini menjadi sangat jelas jika kebiasaan-kebiasaa
Kota Tua Kalianget Peninggalan Penjahan Belanda
Di kota tua ini kita bisa menemukan beberapa peninggalan sejarah yang pernah di bangung oleh Kolonial Belanda, seperti Pabrik Garam Briket Modern pertama di Indonesia yang dibangun tahun 1899, Lapangan Tenis, Kolam renang, bioskop, Taman Kota, hingga pemukiman bagi pegawai dan karyawan untuk pabrik garam
Pangeran Musyarrif Arosbaya, Gugur Ditembak Belanda
Pangeran Musyarrif masih terhitung cicit Sunan Ampel. Buyutnya, Syarif Ahmad ialah adik kandung Sunan Ampel. Asal-usul Pangeran Musyarrif ini ditulis secara rinci oleh Sejarahwan Madura legendaris, Kangjeng R. Tumenggung Ario Zainalfattah Notoadikusumo, dalam sebuah bukunya,
