5. Tahap Tafakkuran dan Taqarruban.
Upacara sakral diikuti oleh seluruh warga, dipimpin oleh tokoh ulama yakni melaksanakan dzikir dan do’a-do’a. Dalam upacara ini situasi amat hening, khidmat dan khusuk agar memperoleh limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, serta warga desa Banjar memperoleh ampunan atas dosa-dosanya. Seusai do’a, tumpeng dibagi-bagikan kepada segenap warga yang menghadiri upacara Rokat – Gumbak.
6. Upacara Bacemman
Bacemman adalah penyucian (pensucian) dan pembersian senjata tradisional (pusaka) yang berjumlah 24 macam. Masing-masing senjata dicuci, diasapi dengan kemenyan/dupa, dan dibawa berkeliling di tempat upacara sambil meliuk-liukkan badan, dengan iringan “Tabbuwan Calo’ (tabuhan mulut/ lisan)” kemudian dilanjutkan dengan “tarian kenca”. Pada waktu itu para ulama dipersilahkan meninggalkan tempat upacara.
7. Terbangan
Sebagai upacara tahap akhir acara hiburan, dengan musik rebana yang lebih populer dengan sebutan musik rebana yang lebih populer dengan sebutan “terbangan”, atau tarian “Hadrah Jidhor”. Seusai dari tanah Galis menuju ke tempat penyimpanan pusaka (rumah dibelakang masjid Banjar)..
sumber: kikanarahman.blogspot.com












Ternyata budaya Madura juga memiliki nilai yang tidak kalah dengan budaya2 lain di Indonesia. Dengan kata lain setiap budaya memiliki pesan moral yang patut untuk diambil hikmah dan pelajaran…..,
upacara menarik, baru kali kali ini saya dengar. makasih infonya lontar madura, semoga banyak tulisan tentang madura yang uptodate
masih banyak sekali warisan adiluhung madura yang belum tertuliskan, mulai dari ujung timur hingga ujung barat. 🙂