Dari Wangsit Sukardi sampai Gua Sukarno

Yan Kay :Dimana itu ?

Ceng Rasidi :Kearah sebelah barat di gua sukarno ada sungai, jaraknya kurang lebih 400 meter, namanya Grujugan. Sukardi menamakan Grujugan sebagai taman pemandian bidadari. Saya sebelumnya tak percaya dengan kata-kata menantu saya. Saya penasaran, pada suatu malam sekitar pukul 02:00 dini hari dibalik remang cahaya bulan saya melihat dengan mata kepala sendiri,vbidadari-bidadari itu mandi dengan bebas seperti layaknya manusia. Sumpah, saya melihatnya sendiri, tidak hanya sekali saya melihatnya. Ini bukan fitnah atau saya ngigau.

Yan Kay :Apakah selama ini Bapak tidak merasa takut hidup dilingkuan gua?

Ceng Rasidi :Kalau saya takut, mungkin saya pindah dari kampung sini Mas. Di  kampong ini hanya ada 8 rumah, itupun jarak rumah saya dengan yang lain berjauhan.  Sampean kan bisa melihatnya sendiri (saya perhatikan, dari 8 rumah itu satu dengan yang lain berjauhan).

Yan Kay :Taman pemandian bidadari itu kira-kira sungainya seperti apa ?

Ceng Rasidi :Sungainya berbatu dan dangkal, airnya jernih dan terus mengalir dari arah selatan walaupun musim kemarau.

Baca juga: Eksotisme Alam Guna Sukarno di Panaongan Sumenep

Yan Kay :Apakah saat itu Sukardi sempat menjumpai bidadari bila  ke sungai itu ?

Ceng Rasidi :Jelas mas, karena pada malam hari Sukardi sering ke taman pamandian bidadari.

(Kemudian saya dan sugiman di ajak Ceng Rasidi menuju taman pamandian bidadari. Kamipun penasaran sambil menyusuri jalan setapak .Ceng Rasidi menunjukkan satu tempat dimana bidadari itu mandi.airnya jernih mengalir lamban persis seperti yang Ceng Rasidi gambarkan. Kami membasuh muka, tangan dan kaki.)

Penulis : Yan Kay
Editor: Syaf Anton Wr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *