Cerita Orang Madura, Tentara dan Polisi

Cerita 3.

Keinginan Zainuri naik busway di Jakarta akhirnya kesampaian. Juragan besi tua asal Sampang Madura itu, naik dari Halte Ragunan dengan tujuan berkeliling kota. Bukankah satu tiket busway bisa digunakan untuk naik busway berulang-ulang dan keliling Jakarta sampai bosan? Begitulah pikiran Zainuri.

Dari Ragunan hingga Halte Dukuh Atas, Zainuri bisa duduk di dalam busway. Namun ketika hendak pindah busway jurusan Pulo Gadung, di Dukuh Atas, penumpang berjubel sehingga Zainuri tak kebagian tempat duduk. Dia berdiri di bagian belakang, berdesak-desakan dengan penumpang yang lain.

Ketika busway baru sampai di depan Markas POM, Guntur, tiba-tiba Zainuri terlihat meringis seolah menahan rasa sakit yang perih. Tepat di depan dia, berdiri seorang pemuda berbadan tegap, rambut cepak ala tentara, dan memakai sepatu PDH militer. Secara tak sengaja, kaki pemuda yang bersepatu laras itu menginjak beberapa jari kaki Zainuri yang hari itu hanya mengenakan sandal dan rupanya itulah yang kemudian menyebabkan Zainuri meringis menahan sakit. Namun Zainuri tak berani menegur karena mengira pemuda itu seorang tentara. Paling tidak polisilah.

Lima belas setelah itu, Zainuri tak sanggup lagi menahan perih. Dia dengan sopan dan suara pelan, lantas memberanikan diri mencolek punggung pemuda itu.

“Mas, maaf, mas tentara ya?” tanya Zainuri ramah sambil tersenyum. Pemuda itu menoleh ke arah Arfin dan menggeleng.
“Atau sampean polisi?” Zainuri bertanya lagi, masih dengan tersenyum.
“Bukan. Memang ada apa Pak?” tanya pemuda itu.
“Kalau begitu, apa mata sampean ndak lihat, kalau sepatu sampean nginjak kaki orang sampai lecet?” bentak Zainuri sambil mendorong pemuda tadi ke arah depan.

(http://rusdimathari.wordpress.com/)

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *