Raden Kabul alias Bujuk Aji Gunung lah yang menurunkan ulama’ – ulama’ di Madura termasuk yang berdomisili di luar Madura. Sisa-sisa peninggalan Buyut Raden Kabul antara lain yaitu Surau atau langgar
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
Kolam Renang Aeng Ghuwa Pote Bangkalan
Pemandian Kolam Renang “Aeng Ghuwa Pote” di desa Jaddih kecamatan Socah kabupaten Bangkalan ini sangat unik. Wisata alam ini berada tepat di area sekitar penambangan batu kapur
Sumenep pada Masa Kemerdekaan
Rakyat Sumenep berupaya mempertahankan setiap jengkal tanah, sekalipun dengan persenjataan yang sangat terbatas. Tapi semangat juang tetap berkobar dan tak bisa dipatahkan, karena semangat juang tak kenal lelah
Manusia Madura: Pandangan Hidup, Perilaku, dan Etos Kerja
Etos dapat diartikan sebagai sikap, pandangan, pedoman atau tolok ukur yang ditentukan dari dalam diri sendiri seseorang atau sekelompok orang dalam berkegiatan. Dengan demikian, etos merupakan dorongan yang bersifat internal
Re-Interpretasi Makna Bhapa’ Bhabu’ Ghuru Rato
Orang Madura tentu tahu dan mendengar istilah Bhapa’ Bhabu’ Guru Rato. Ada tiga kata yang penting untuk kita refleksikan maknya. Keempat kata itu memiliki nilai etika, nilai akhlak, nilai tengka, nilai filosofis dan nilai keilmuan bagi kita agar tidak menjadi sosok manusia yang kaku dalam melihat keberagaman manusia
Sajak-Sajak Penulis Madura
munculnya penulis-penulis Madura dalam kancah sastra Indonesia tergolong agak lambat. Baru pada pertengahan 1960-an ada dua penulis dari Madura yang karangan-karangan mereka dimuat dalam majalah sastra bergengsi yaitu Sastra dan Horison. Mereka adalah M Fudoli Zaini dan Iskandar Zulkarnaen. Fudoli tidak pernah menulis puisi. Ia adalah penulis cerpen yang rajin dan kontinyu. Adapun Iskandar hanya sekali saja sajaknya muncul dalam majalah Sastra pada tahun 1966
Remeh-Temeh Untuk Keagungan Puisi
Di Madura, sastrawan yang lahir dan muncul pada umumnya adalah penyair, bukan cerpenis atau novelis. Penulis prosa hanya dapat dihitung dengan jari, berbanding secara jomplang jika disejejarkan dengan penulis puisi. Hanya selangkah setelah menyebut nama Fudoli Zaini yang sudah lama berpulang, kita lantas akan mendadak kesulitan untuk mengajukan nama-nama prosais lain yang sudah mapan
Ketam Ladam Rumah Ingatan: Menggali Madura, Menggali Pesantren
Antologi puisi Ketam Ladam Rumah Ingatan setidaknya menunjukkan fenomena perpuisian Indonesia di Madura sebagai salah satu eksemplar puisi Indonesia mutakhir. Maraknya kehidupan dan cukup tingginya produksi puisi (dan sastra) Indonesia
Perjumpaan Penyair Reboeng Madura
Komunitas Reboeng, Jakarta, turut mengapresiasi dan menerbitkan sejumlah karya-karya puisi penyair muda Madura, dalam buku Ketam Ladam Rumah Ingatan, yang diluncurkan pada hari Sabtu tanggal 20 Februari 2016, oleh komunitas Reboeng, Jakarta. Acara yang akan dilangsungkan di Pendopo, Sumenep
