Kamil hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari anak-anak di kampung lebak yang rata-rata hanya mengenal penidikan dasar. Di mata Kamil, wajah-wajah dihadapannya adalah wajah lugu, sunyi, dan belum mengenal rumitnya jaman.
Mendengar penuturan Kamil, hati Marlena jadi berontak. Ingin rasanya dia mengikuti jejak Kamil untuk sekolah ke kota. “tapi apa yang harus diperbuat?” batin Marlena lesu.
Usia tujuh tahun sebenarnya terlalu dini untuk mengenal hakekat kehidupan. Tapi bagi Marlena usia itu justru sudah menapaki tebing-tebing terjal yang kadang belum terpikirkan oleh yang lain. Tebing-tebing yang membatasi tanah kelahirannya ke arah yang lebih maju. Marlena tercenung.
*****
“Apa yang kamu kerjakan di situ Lena?” tegur Bruddin yang baru tiba menjaring ikan di laut. Dia heran melihat Marlena termenung seorang diri dibawah pohon siwalan. Jaring di tangannya langsung disandarkan di atas pagar.
“Ada apa lena?” ulang Bruddin sambil mendekati Marlena.
Marlena menggeleng.
“Ayo katakan mengapa?”, Bruddin heren. Wajah Marlena merona “Diganggu Juki lagi ya?”, lanjut Bruddin.
Sekali lagi Lena menggeleng. Beberapa butir air mata meleleh di pipinya. Matanya sembab.
“Ayo jawab nak, ada apa sebenarnya?” tanya Bruddin semakin penasaran. Namun Marlena tidak menjawab. Bahkan wajahnya semakin merunduk.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita makan. Tadi telah kusediakan makanan kesukaanmu. Ada cakalan bakar dan kecap,” rayu Bruddin. Tanpa menunggu jawaban, Bruddin langsung meraih tangan Marlena dan mengajaknya masuk ke rumah.
Dengan lahap Marlena menyantap makanan kesukaannya. Yang tersisa hanya duri-durinya saja. Setelah perut Marlena kenyang, Bruddin kembali mencoba menjajaki pikiran Marlena. Akhirnya, sambil bercengkrama Marlena mengungkapkan kekesalannya pada sang ayah.
“Ayah !”, seru Marlena ragu.
“Hem, ada apa lagi?” tanya Bruddin memancing.
“Lena ingin ..,” ucapnya ragu.
“Pasti telur penyu!”, tebak Bruddin.
“Tidak…,” jawab Marlena manja.
“Lalu ingin apa?” , tanya Bruddin kembali.
“Lena ingin sekolah,” tandasnya. .
“Se-ko-lah?”, ulang ayahnya pelan.
“Iya…,” sahut Marlena lirih. “Marlena ingin sekolah seperti Marbuah, Masduki dan lain-lainnya…,” tambahnya.
“Ayah mengerti…tapi dari mana ayah dapat uang untuk biaya sekolah nak?, kata Bruddin masygul.”
Mendengar itu, hati Marlena menjadi ciut. Ia tak mampu lagi mengucapkan kata kata. Lidahnya terasa kelu. Bahkan mulutnya terasa tersumbat. Bruddin harus maklum, bahwa anak seusia Marlena sudah sepantasnya duduk di bangku sekolah. Sebagai orang tua, Bruddin merasa prihatin dan sedih. Tapi apa yang harus ia perbuat? Apalah yang ia dapat lakukan sebagai buruh angkut penangkapan ikan? Untuk makan sehari-hari saja Bruddin sudah merasa keberatan. Apalagi harus memenuhi tuntutan anaknya untuk sekolah. Tapi dia juga tidak tega menolak keinginan anaknya.
“Baiklah…ayah akan usahakan minta bantuan Haji Mastur. Mungkin beliau dapat menolong kita,” jawab Bruddin.
Marlena terpana. Tubuhnya seraya melayang-layang ke udara. Sesaat ia membayangkan berlari-lari seraya mengempit buku menuju sekolah. Hari ini, hari bahagia bagi Marlena.
*****
Haji Mastur sedang pergi ke kampung Pandan ketika Bruddin bertamu ke rumahnya. Sambil menunggu kedatangan H Mastur, Bruddin melayangkan pandangannya ke perabot rumah H Mastur yang tak mungkin ia milikinya. Barang-barang mewah itu terpajang begitu indah dan serasi dengan rumah yang bagus dan besar itu.
Khayalan Bruddin buyar, ketika tiba-tiba Haji Mastur telah muncul dihadapanna. “Sudah lama Din?” sapanya seraya menyalaminya.
“Belum. Baru saja Man Haji,” sahut Bruddin tergagap.
“Ada sesuatu yang penting?” tanyanya kemudian
“Anu Man Haji, ” tutur Bruddin ragu. Suaranya terputus. Tapi karma didorong oleh rasa sayangnya pada Marlena, dia paksakan juga untuk mengemukakan maksud kedatangannya. “Begini…., Marlena anakku, ingin masuk sekolah. Tapi Man Haji tahu sendiri, bahwa keadaanku tidak memungkinkan untuk membiayai sekolah Marlena,” ungkap Bruddin berani.
“Yah…aku mengerti maksud alè’ (adik) Bruddin. Marlena memang perlu sekolah. Akupun tidak keberatan memberikan bantuan. Tapi apakah kamu sudah memikirkan untung ruginya bagi seorang perempuan, toh akhirnya akan kembali ke dapur juga. Tapi pikirannya membantah pendapatnya sendiri.
“Aku setuju dengan pendapat Man Haji. Tapi kulihat kemauan Lena untuk sekolah, sudah tak dapat di bendung lagi. Bahkan ketika kukatakan bahwa aku akan berusaha mewujudkan impiannya, dia melonjak-lonjak kegirangan. Itulah Man, yang membuatku memberanikan diri untuk datang kemari,” kata Bruddin.
“Yah…kalau memang hal itu sudah merupakan keputusan kalian. Aku tidak keberatan membantumu,” jawab Haji Mastur mantap. “Tapi terus terang, aku hanya membantu semampuku,”ujarnya.
“Terima kasih Man Haji,” kata Bruddin dengan dada yang lega. Ia membayangkan betapa gembiranya hati Marlena bila keinginannya terpenuhi. Meskipun ia sendiri terkadang ragu akan kenyataan yang akan ia hadapi nantinya. Tapi apapun akibatnya, yang penting untuk kali ini Bruddin tak ingin mengecewakan anaknya. Untuk itulah, Bruddin tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa. (*)
Bersambun episode tiga: Marlena; Menepis Badai











