▲ Menuju 🏛 HomeTradisi MaduraMacapat; Budaya Madura Mulai Dilupakan MasyarakatnyaPage 2

Macapat; Budaya Madura Mulai Dilupakan Masyarakatnya

Selama ini Madura sangat dikenal dengan daerah yang kaya akan kebudayaan. Berbagai kebudayaan lokal yang lahir dan berkembang di Madura. Ada kebudayaan yang berupa kesenian tradisional,benda-benda peninggalan dan ada juga kebudayaan yang kental dengan nuansa religiusnya.

Salah satu kebudayaan yang dimiliki Madura adalah macapat. Kebudayaan ini sudah ada sejak puluhan tahun yang silam, dan sampai sekarang juga masih ada dan berkembang. Kebudayaan ini biasanya banyak kita temui di daerah pedesaan.

Macapat atau juga ada yang menyebutnya dengan mamaca, merupakan kebudayaan madura yang juga bisa dikategorikan berbentuk kesenian. Tembang yang ditulis dengan bahasa jawa ini dilantunkan dengan syair-syair tertentu, atau juga yang dikanal dengan istilah tembheng. Dan selain dibaca dengan syair-syair tertentu, biasanya ketika dibaca ada orang ke dua yang mengartikan bacaan-bacaan tersebut atau menterjemahkan ke dalam bahasa dearah, dan orang tersebut biasanya disebut dengan “  panegges  atau tokang tegges “ .

Selain panegges, yang tidak kalah menariknya biasanya dalam pembacaan macapat ini terkadang diringi dengan alunan musik, dan yang sering dengan menggunakan seruling. Sehingga dengan kolaborasi antara pemabaca tembeng, kemudian ada yang mengartikan yang disebut tokang tegges, dan diiringi dengan musik seruling, maka tampak kedengaran dengan begitu indah. Sungguh merupakan kebudayaan yang sangat unik dan patut diapresisasi, yang paling penting lagi adalah patut untuk dilestarikan keberadaannya.

Dan tak kalah penting lagi, macapat bukan hanya tembang-tembang tanpa makna. Dibalik keidahan syiar yang dilantunkan, macapat  juga berisi tentang cerita-cerita yang mengandung nilai-nilai luhur yang patut untuk diikuti.

Biasanya juga macapat  bacaannya berupa hadist-hadist Nabi yang ditulis dalam bahasa jawa atau juga cerita-cerita masa lalu. Sehingga dengan demilikian kitajuga bisa mengambil pelajaran luhur darinya.

Dalam perjalanannya, sebagai bentuk upaya pelestarian budaya ini, di Desa-desa diadakanlah yang namanya arisan-arisan. Atau masyarakat lebih mengenal dengan sebutan kompolan mamaca. Dalam kompolan ini selain ada pembacaan macapat juga ditarik uang, yang nominalnya sebenarnya tidak terlalu be sar, sebab bagi mereka (masyarakat) subtansi nya adalah macapatnya bukan arisannya. Aris an hanya sebagai salah satu media untuk bisa melestarikan kebudayaan macapat tersebut.

Pages: 1 2 3 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.