Shalat lima waktu merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Ibadah tersebut adalah ibadah pribadi yang langsung berhubungan dengan Sang Khalid, yaitu totalitas kepasrahan pribadi seorang muslim serta implementasi ibadah tersebut dalam kehidupan sosial nya di masyarakat. Keselarasan ibadah vertikal dengan ibadah horizontal harus seimbang. Dengan demikian maka akan terciptalah suatu kehidupan yang harmonis serta tatanan masyarakat yang tertib.
Secara tersirat, syair Cung Kuncung Kunce mengingatkan umat muslim untuk menjalankan ibadah shalat dengan sebenar-benarnya. Karena nilai yang terkandung dalam shalat dapat diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Dengan melakukan ritual shalat, manusia akan lebih dekat dengan Sang pencipta-Nya. Dengan melaksanakan shalat secara baik dan benar akan menjadikannya seorang pribadi yang matang, kuat dan kokoh. Oleh sebab itu melalui syair Cung Kuncung Kunce, manusia diingatkan agar dalam menjalankan ibadah shalat bukan hanya sebatas ritual semata, melainkan melaksanakannya dengan kesungguhan hati dan sepenuh jiwa.
Melalui tulisannya, penyair mengingatkan agar manusia dalam menjalankan ibadah shalat tidak melakukannya setengah-setengah. Dalam arti apabila shalat hanya dilakukan sebatas ritual saja, maka akan mengakibatkan tidak adanya keselarasan tingkah laku. Shalat yang bertujuan menyembah Sang Pencipta, menjauhi semua larangan serta mematuhi semua perintah-Nya hanya dijadikan simbol-simbol keagamaan. Hal itu menyebabkan walaupun manusia rajin beribadah, namun masih mengerjakan perbuatan yang tercela, melanggar aturan, berjudi, berzinah maupun mencuri. {Lilik Rosida Irmawati}










