Cung-Kuncung Konce, Terkandung Pendidikan Seks

Makna Khusus pada Syair Cung-Kuncung Konce

Walaupun secara umum masyarakat menilai bahwa lagu ini syarat dengan muatan seksualitas, namun apabila dikaji lebih mendalam terdapat nilai-nilai filosofi yang sangat mendalam sekaligus nilai-nilai kearifan, etika dan moralitas. Nilai-nilai tersebut terutama terdapat pada bait pertama. Sedangkan bait kedua dan seterusnya merupakan syair-syair tambahan untuk lebih memperpanjang nyanyian tersebut.

Secara gamblang pada bait pertama dalam puisi lisan Cung Kuncung Kunce memberikan gambaran utuh tentang perilaku yang semestinya dimiliki oleh masyarakat. Sopan santun, etika serta tata krama menempati urutan teratas sebagai perilaku yang patut dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Penghormatan dan penghargaan yang tinggi akan diberikan  kepada setiap masyarakat dari berbagai kalangan, apabila mampu menunjukkan sifat, sikap serta perilaku yang baik. Sebaliknya, walaupun menyandang status sosial tinggi serta bermartabat tidak akan mendapatkan penghormatan dari anggota masyarakat lainnya apabila menunjukkan perilaku yang cacat dan tercela.

Perilaku yang paling tercela adalah sikap yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap penganut agama yang sedang menjalankan ibadah. Gambaran ini dapat dikutip dari kalimat, //Na’kana’ marking-markung /Baba’anna kapung-kapung / Ngek-serngeggan, rut-suruddan//, (//anak-anak duduk-duduk / dibawah pohon kapuk / cekikikan cekakakan//). Kalimat dalam puisi tersebut adalah ungkapan yang ditujukan kepada seseorang yang dengan sengaja tidak menghormati serta menghargai seseorang yang sedang menjalankan ibadah. Melalui sindiran tersebut diharapkan mampu merubah perilaku tercela menjadi perilaku yang terpuji.

Penanaman nilai-nilai etika maupun spiritual (agama) yang dilakukan sejak dini, diharapkankan mampu membentuk kepribadian yang matang sampai dewasa. Apalagi ketika telah memasuki usia matang perkawinan. Nilai-nilai kebaikan, perilaku terpuji serta kematangan kepribadian yang dimiliki akan menjadi bekal serta menjadi benteng kokoh ketika menghadapi problematika kehidupan. Salah satu nilai yang paling penting adalah menjalankan kewajiban shalat lima waktu, namun dalam realita yang ada banyak sekali manusia (umat muslim) melalaikan kewajiban tersebut, sebagaimana diungkapkan dalam kalimat, //Pangantan tao abajang /Pabajanggnga ketha’ keddung//( sang pengantin tahu sembahyang / tapi sembahyang terputus-putus (asal gerak).

Bangunan yang kokoh tentunya ditunjang oleh pondasi  dan ting-tiang kokoh serta kuat. Perumpamaan tersebut dapat dijadikan tolak ukur kehidupan beragama. Seseorang yang mengaku dirinya beragama, tentunya akan menjalankan semua ketentuan yang disyariatkan oleh agama yang dianutnya. Namun sering terjadi manusia hanya menggunakan agama sebagai identitas diri agar diakui keberadaannya oleh lingkungan masyarakatnya.

Maka filosofi mendalam dalam syair Cung Kuncung Kunce ini membidik sosok manusia yang hanya menggunakan agama sebagai identitas dan simbol. Ibadah shalat lima waktu sebagai tiang penyangga bangunan kokoh Islam, dijalankan hanya sebatas ritual semata. Akibat dari sikap yang tidak konsisten  terhadap agamanya, maka perilaku yang dijalankan sama sekali jauh  dari nilai-nilai yang disyariatkan oleh agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *