Disebutkan pada awal bait, secara filsafat dapat di teropong sebagai masa bulan madu, yang diiringi dengan suasana gembira dan bahagia dalam irama gamelan, dhe’- nondhu’ (dhu’-nondhu’ artinya masa menunduk), yaitu rasa bahagia tetapi diliputi rasa malu, hati yang tenang karena sudah berlabuh kebahagiaan.
Permainan Anak madura
Ragam tradisi anak Madura dalam bentuk folklore dan permainan serta kearifal lokal Madura pada masa lalu yang unik dan menarik untuk diapresiasi semua kalangan
Nilai Kesejarahan Syair Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang
Selain nilai kesejarahan, syair Dhe’ nong dhe’ ne’ nang mempunyai pengertian mengangkat ritualisme melalui jalur pengantin anak-anak, sebagaimana harapan penciptanya (anonim) agar lebih mudah dan leluasa dijiwai oleh masyarakatnya, yaitu ritual pengantin yang diangkat menjadi tradisi (folklore).
Tan-Mantanan, Tradisi Permainan Anak Madura
Awalnya tradisi permainan anak Madura, Tan-Mantanan atau kerap disebut Tan-Pangantanan dilakukan secara sederhana. Terdiri dua kelompok, yaiutu putra dan putri
Set-seset Maloko’, Syair Pemanggil Angin
“Set-seset Maloko'”, bunyi irama syair yang dilantunkan anak madura yang tujuannya untuk mendatangkan angin, makanya dikenal sebagai Syair Pemanggil Angin
Cung-Kuncung Konce, Terkandung Pendidikan Seks
Ada kalangan menyebut, bahwa mainan (folklore) Cung-kuncung konce (sastra lisan) mengandung unsur pornografi. Namun bila dilihat dari makna
Pa’ Kopa’ Eling, Pesan Etika dan Moral
Pa’ kopa’ eling adalah tradisi permainan anak-anak di Madura, yang pada jamannya cukup diminati Dan merupakan bagian tradisi dalam bentuk sastra lisan masyarakat Madura yang kini sudah mulai hilang.
