Kemudian pepatih Joyosingo bertolak ke Majapahit untuk menyusul pulang ke Sumenep, Pangeran Setyodiningrat yang lalu segera minta diri kepada raja Majapahit dan kemudian menjumpai cucunya ada di Sumenep. Setelah itu maka Kudho Panule minta diri kepada ibunya dan embahnya untuk bertolak ke gunung Geger perlu menghadap ayahnya yang sedang bertapa di sana.
Sampai di gunung Geger ia berjumpa dengan ayahnya (Adipoday). Dari ia punya ayah ia menerima Si Mega Remeng yaitu hadiah pusaka dari pamannya yang bernama Adirasa dan sebilah cemeti (pecut) dari ayahnya sendiri (Adipoday), akan tetapi belum diperbolehkan dibawanya, hanya diberitahukan bagaimana caranya apabila ia memanggil itu kuda dan meminta itu cemeti (pecut). Diceritakan, bahwa itu kuda ada memakai sayap, sehingga dapat lari di atas tanah pun pula terbang sebagai seekor burung.
Maka rupa-rupa pelajaran ilmu-ilmu yang digemari orang pada itu jaman, ia dapat menerima dari ayahnya, pun juga ia mendapat tahu dari ayahnya yang nanti dikemudian liari ia akan berperang dengan seorang prajurit yang ulung yang bernama Dempo Awang (sebetulnya : Sampo Awang) seorang panglima perang dari yang akan menunjukkan kekuatannya kepada semua raja-raja di tanah Jawa, Madura dan sekitarnya, la (Dempo Awang) di dalam peperangannya mengendarai suatu kapal (perahu besar) yang tidak hanya dapat berlayar di lautan, akan tetapi juga di daratan dan diantaranya bumi dan langit.
Ia dipesan oleh ayahnya, nanti di kemudian hari apabila ia berhadapan perang dengan Dempo Awang, supaya ia lari dengan mengendarai kudanya diantara bumi dan langit yang mana ia tentu dikejar oleh musuhnya. Apabila ia mendengar suara pamannya (Adirasa) yang tentu akan terdengar bersuara : “Pukul !!!” maka ia harus menahan kekang kudanya sehingga kepala itu kuda menoleh ke belakang dan ia harus juga menoleh ke belakang sambil memukul dengan cemetinya ke belakang. Pada itu saat, cemeti akan mengenai kapalnya Dempo Awang yang pasti akan hancur dan jatuh ke tanah sehingga semua isi itu kapal menemui ajalnya.











