Kekayaan seni tradisional Madura yang berisi nilai-nilai luhur berlandaskan nilai religius Islami seharusnya diperkenalkan kepada generasi warisan bangsa.
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
Kadipaten Sumenep, Pernah Menguasai Pulau Madura
Kadipaten Sumenep (atau sering dikenal sebagai Kadipaten Madura), adalah sebuah monarki yang pernah menguasai seluruh Pulau Madura….
Topeng Dalang Madura, Teater Rakyat Paling Populer
Ciri khas dan unik dari topeng dalang Madura adalah dipakainya ghungseng dipergelangan kaki penari. Pemakaian gungseng tersebut bukan hanya sekedar hiasan,
Masyarakat dan Kebudayaan Madura Termarginalkan?
Interaksi sosial terjadi sentuhan budaya, sedangkan kebudayaan Jawa sudah telanjur diakui sebagai kebudayaan dominan maka dalam ajang persentuhan budaya tersebut masyarakat dan kebudayaan Madura termarginalkan.
Orang Madura Suka Haji : “Ka’ Towan dan Bhu’ Towan”
Para Haji Madura merupakan pegangan (hujjah) hidup bahwa tidak semua orang Madura itu bengis dan menjadi tentara sewaan dalam korps Marsose atau Barisan.
Madura Jangan Dipandang Sebelah Mata
Kalangan menengah Madura sulit mengaku Madura manakala berada di luar Madura. Sebab, masyarakat luar Madura telah punya persepsi kurang bagus akan Madura.
Kitab Kuno Berusia 400 Tahun Ditemukan di Pamekasan
Kondisi kitab kuno karya ulama asal Aceh itu sebagian sudah tidak utuh lagi dan banyak yang berlubang karena dimakan rayap. Ada sekitar 80 eksemplar naskah
Kandungan Filsafat Syair Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang
Disebutkan pada awal bait, secara filsafat dapat di teropong sebagai masa bulan madu, yang diiringi dengan suasana gembira dan bahagia dalam irama gamelan, dhe’- nondhu’ (dhu’-nondhu’ artinya masa menunduk), yaitu rasa bahagia tetapi diliputi rasa malu, hati yang tenang karena sudah berlabuh kebahagiaan.
Nilai Kesejarahan Syair Dhe’ Nong Dhe’ Ne’ Nang
Selain nilai kesejarahan, syair Dhe’ nong dhe’ ne’ nang mempunyai pengertian mengangkat ritualisme melalui jalur pengantin anak-anak, sebagaimana harapan penciptanya (anonim) agar lebih mudah dan leluasa dijiwai oleh masyarakatnya, yaitu ritual pengantin yang diangkat menjadi tradisi (folklore).
