Muhammad Saleh Werdisastro adalah pria Madura kelahiran Sumenep 14 Mei 1908, putra dari cedekiawan R. Musaid penyusun Buku Babad Sumenep. Sang ayah kemudian dianugerahi sejumlah uang (gulden) dan gelar Werdisastro
Lontar Madura1087 Posts
Muhammad Saleh Werdisastro Menanamkan Rasa Kebangsaan
Walaupun harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, dengan tekad bulat, Muhammad Saleh Werdisastro, mendirikan sekolah setaraf HIS yang dapat menampung anak-anak lapisan bawah.
Warga Asal Madura di Banyuwangi Lestarikan Tradisi Macaan
Komunitas warga asal Madura di Banyuwangi kini memiliki kelompok paguyuban yang disebut Joko Tole. Nama…
Pesantren Modal Pengembangan Bahasa Madura
Pesantren merupakan modal budaya sekaligus modal sosial dalam mengembangkan bahasa Madura. Pengalaman pesantren dalam pergumulannya dengan bahasa Madura adalah usaha memanfaatkan bahasa Madura itu sendiri secara maksimal, dengan sejumlah daya dukung yang cukup besar —terutama kapitalisme-cetak.
Bahasa Madura Sebagai Ilmu
Hirarki bahasa Madura di satu sisi memang membatasi atau bahkan menghambat kemajuan bahasa Madura sendiri karena tidak sejalan dengan desakan modernitas yang menjunjung egaliterianisme dan kepraktisan. Namun di sisi lain hirarki bahasa Madura telah memungkinkan, bahkan mendorong, agar bahasa Madura memainkan fungsi sosial justru di saat struktur sosial menghadapi jalan buntu
Kiai Abdullah Sajjad: Tokoh yang Tegas dan Berkarakter
Kiai Abdullah Sajjad adalah putra Kiai Syarqawi dari Nyai Qamariyah. Dilahirkan di Guluk-Guluk Sumenep Madura….
Madura di Aras Kebangsaan
Identitas kebangsaan pada akhirnya sangat ditentukan oleh dialog kreatif antara sumber nilai keagamaan dan kedaerahan, yang secara bersama-sama dapat mengusung keindonesiaan sebagai suatu entitas dan identitas budaya yang majemuk
Bahasa Madura dan Dunia Santri: Negosiasi yang Belum Selesai
Salah satu modal budaya yang sangat penting pada hemat saya adalah pergumulan bahasa Madura di lingkungan pesantren. Sudah tentu kita harus menyadari pula keterbatasan-keterbatasannya
Kolonialisme dan Polarisasi Masyarakat
Berbanding terbalik dengan itu, simbol identitas lingkungan kolonial adalah sekolah model Barat (pendidikan), kota (basis geografis), ilmu umum (keilmuan), pantalon, celana, dasi, jas (pakaian), bahasa Belanda (bahasa asing)
