Sumenep dalam Sejarah dan Otoritas Kepenulisan

Kemana Arah Sejarah ?

Sejarah, dalam konteks Sumenep, bukan hanya cerita tutur atau lisan yang tidak memiliki kekuatan data yang valid. Memang harus diakui, bahwa situa si sosial budaya di kota berlambang kuda terbang ini masih erat dengan budaya pathemalistik. Apala gi, jika tutur kata yang dijadikan rujukan berasal dari mulut mereka yang memiliki otoritas di bidang yang relevan, apalagi yang secara hierarki sosial menempati bagian dari the ruling class.

Salah satu buku yang populer bicara tentang peta Sumenep masa lampau di sini ialah buku kara ngan Raden Werdisastra yang berjudul Bhabhad Songenep. Buku inilah juga yang ikut mendasari kepenulisan buku Sejarah Sumenep terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tahun 2003 yang lalu.

Dalam pengantamya Raden Werdisastra meng isyaratkan bahwa buku yang ditulisnya di era penja jahan kolonial tersebut kadar kebenarannya berki sar 50%. Sedangkan 50%-nya lagi, berisi tulisan-tulisan yang multi tafsir, ungkapan-ungkapan meta foris yang perlu dimaknai lagi akan maksud yang sesungguhnya. Karena bisa dimaklumi, jika seandai nya “apa adanya” yang ditulis oleh pemilik nama asli R. Musaid ini, bukannya gelar dan penghargaan yang diperolehnya, melainkan sebuah ruang pengap di balik jeruji besi yang dingin. Namun, walau begi tu, Werdisastra berniat merevisi buku tersebut sete lah keadaan memungkinkan nantinya. Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain, Werdisastra mangkat meng hadap-Nya sebelum niatnya tersebut terlaksana.

Keberadaan buku yang berbentuk babad terse but, pada masa “kemarin” cukup membantu dalam ruang akses informasi tentang sisi awal kota Sume nep, walau banyak isi yang terdapat di dalamnya secara ilmiah sukar dicerna. Namun pada masa kini, dimana tradisi keilmuan dalam bidang kepenulisan juga sudah mengalami yang namanya reformasi tulisan-tulisan semacam babad, legenda, tutur, tidak serta merta diterima tanpa adanya riset lebih lanjut akan kebenarannya. Sehingga dalam rangka pembu atan buku sejarah apapun dan di manapun, tulisan-tulisan yang bersumber di dalamnya memang tidak ada salahnya dikutip, namun tetap harus disertai pemahaman kepada pembaca dalam mencernanya, agar tidak berakibat tercampur aduknya kebenaran dengan tutur lisan yang tidak memiliki argumentasi ilmiah. Artinya, jangan sampai isi yang bermuatan metaforis atau multitafsir, yang ditekankan pada sisi keindahan bahasa bukan realitas menjadi sejarah itu sendiri. Sehingga meminjam seloroh Ucup Kelik, Wapres Republik BBM, sebuah acara komedi politik di Indosiar : “Sejarah = Sebaiknya Jangan diarah-arahkan!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.